Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

Salah Satu Warga Transmigran UPT Moian Penderita Lumpuh Layu

Nurhayati (45) ,warga transmigrasi asal Cirebon menggendong anaknya Lihadatul Ais (5) Balita penderita lumpuh layu di rumah pembagian warga Trans di UPT Moian (foto:Heru)

Taopa,portalsulawesi.id– Ada yang menarik dari Warga Transmigrasi  asal Jawa Barat yang didatangkan untuk menghuni Rumah Transmigrasi Nelayan di Unit pelayanan Tehnis (UPT) Moiyan,dari 11 kepala Keluarga yang didatangkan pemerintah ada satu anak dari Transmigran asal Cirebon menderita lumpuh layu.

Adalah Lihadatul Ais (5) Balita penderita lumpuh layu anak Pasangan Suparyo (48) dengan Nurhayati (45) ,warga transmigrasi asal Cirebon yang datang di Dusun Moian ,menempati salah satu rumah dari 25 unit rumah transmigran dan jamban keluarga (RTJK) di Moian Desa Palapi, Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) menderita lumpuh layu.

Kondisi Ais,panggilan anak Nurhayati sangat memprihatinkan,kaki dan tangannya mengecil. Kesehariannya hanya mengandalkan gendongan ibunya .

Ditemui portalsulawesi,Nurhayati menceritakan kekhawatirannya terkait kondisi kesehatan anaknya dilokasi transmigran,pasalnya di UPT Transmigran Moian Fasilitas kesehatannya masih minim,akses jalan ke desa induk juga masih sering dilanda banjir ROB.

“Kondisi rumah di UPT Moian jauh dari harapan kami,rumah yang diberikan ke kami pintu kamar belum ada,lantainya banyak yang retak,bahkan lampu tenaga surya yang dijanjikan belum ada,bahkan klinik kesehatan masih belum ada “ Ungkapnya.

Seperti diketahui,bertepatan dengan peringatan Hari bakti ke 68 Tingkat propinsi Sulawesi Tengah yang dilaksanakan di Dusun Moian,Desa Palapi Kecamatan  Taopa Kabupaten Parimo ,pemerintah menempatkan 25 kepala keluarga di lokasi UPT Moian.

Selain di UPT Moian,dinas Nakertrans Propinsi sulawesi tengah juga menempatkan 40 kepala keluarga di UPT Uetangko,  Kabupaten Tojo Una-Una,  25 kepala keluarga di UPT Kabera, Kabupaten Morowali dan 30 kepala keluarga di UPT Dungkean, Kabupaten Baggai Laut,sehingga total keseluruhan Warga Transmigrasi tahun 2018 sejumlah 120 kepala keluarga.

Kepala dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi propinsi sulawesi tengah,Abdul Razak kepada sejumlah wartawan mengatakan fihaknya hanya memfasilitasi kedatangan para tranmigran dari daerah asal hingga ke daerah tujuan,terkait infrastruktur penunjang menjadi tanggung jawab Dinas Transmigrasi kabupaten setempat.

“Kami hanya memfasilitasi kedatangan para Transmigran dari daerah asal hingga ke daerah Tujuan,terkait infrastruktur sepenuhnya tanggung jawab daerah “ kilahnya.

Sementara itu,Kepala dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Parigi Moutong,wayan sariana ditemui usai upacara peringatan HUT Transmigrasi Tingkat Propinsi di UPT Moian mengaku tidak mengetahui terkait kondisi Rumah Transmigrasi dan jamban keluarga (RTJK) yang kondisinya terkesan “dipaksakan “ penggunaannya,dirinya bahkan mengaku tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya terkait proyek yang menelan anggaran Rp 1,6 Milyar tersebut.

Wayan Sariana terkesan menghindari pertanyaan wartawn terkait kondisi rumah Transmigrasi dan Jamban Keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. “Maaf dek,saya tidak biasa kena hujan ” kelitnya.

“Tanya sama Dadang PPKnya,dia lebih tau itu,laporannya sih udah beres semua “ Jawabnya kepada portalsulawesi sambil buru buru naik mobil dinasnya.***

Penulis : Redaksi Portalsulawesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *