Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

Hanya Andalkan Genset,Masyarakat Pengungsian di Desa Lero Krisis Listrik

Penyintas bencana alam di desa lero tatari masih bertahan ditenda tenda Pengungsian akibat belum adanya Huntara,selain itu warga mengeluhkan krisis listrik dan Air bersih (Dok.Theo)

Donggala,portalsulawesi.id – Ratusan Kepala Keluarga warga Desa Lero dan Lero Tatari Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala hingga kini hidup di tenda pengungsian belum memiliki sarana penerangan listrik memadai. Satu-satunya sumber penerangan tempat pengungsian bersumber dari mesin genset.

Keluhan tentang kebutuhan Listrik tersebut diungkapkan warga dalam forum pertemuan  Reses Anggota DPRD Sulteng, Muhammad Masykur yang dilaksanakan di Posko Pengungsian Lapangan  Sanggola Dusun 01 Pompaya Desa Lero, Kamis (8/11).

Dalam pertemuan tersebut salah satu yang menjadi permasalahan warga di lokasi pengungsian belum adanya sarana penerangan listrik.

Nampak, sumber penerangan yang dimanfaatkan  sebagai alat penerangan disetiap tenda dan mushollah darurat hanya dari genset.

Masykur menyampaikan semestinya tidak memadai lagi jika menggunakan genset. Beda halnya jika masih dalam kondisi darurat bencana. Genset menjadi alat bantu utama penerangan.

Namun saat ini kita di masa transisi darurat menuju pemulihan.  Gubernur Sulawesi Tengah menetapkan status transisi darurat ke pemulihan gempa bumi, tsunami dan likuifaksi selama 60 hari terhitung mulai 27 Oktober hingga 25 Desember 2018.

Penetapan Status Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana Gempabumi, Tsunami dan Likuefaksi di Sulteng ditetapkan berdasar Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah No.466/425/BPBD/2018 pada 25/10/2018.

Sehingga menurut Masykur alangkah tidak elok jika warga di pusat pengungsian Desa Lero dibiarkan terus menerus hidup dalam suasana yang tidak ditopang sarana penerangan layak.

Sudahi kesusahan warga secara bertahap di tenda pengungsian. Pemerintah Daerah dan PT. PLN Cabang Palu diminta menjadi pelayan yang baik untuk dan atas nama  pemenuhan hak warga, temasuk hak atas penerangan, kata Masykur.

Warga sudah susah dan menderita akibat bencana gempa dan tsunami, rumah hancur dan bahkan sebagian tidak memiliki rumah. Dan makin dibuat susah karena setiap hari harus mengumpulkan uang untuk kebutuhan bahan bakar genset. Sementara sumber penghasilan belum ada, terutama yang nelayan karena  alat tangkap semua hilang disapu tsunami.

“PLN selaku Badan Usaha Milik Negara harus hadir di tempat seperti ini,kebutuhan listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat,dengan memakai genset beban hidup masyarakat akan bertambah dengan membeli bahan bakar “ Ujar Wakil ketua Komisi III DPRD Propinsi Sulteng kepada Portalsulawesi.

Perusahaan Listrik Negara Area palu terkesan pilih kasih dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya masyarakat di Palu,sigi dan Donggala. Hal ini dapat dilihat dengan diperbantukannya gardu Listrik bergerak di salah satu Pusat Perbelanjaan di Kota palu yakni Palu Grand Mall .

“Terkesan PLN Pilih kasih,kalau PGM diberi bantuan Genset bergerak milik PLN,kalo ditenda pengungsian masyarakat pakai genset sendiri ,sangat tidak etis “ Kritik Ujang,Mahasiswa IAIN yang kampusnya luluh lantak disapu Tsunami.

Oleh karenanya alangkah jauh lebih manusiawi jika beban tersebut dapat dikurangi jika PT. PLN juga dapat hadir berbagi beban bersama warga korban. Data terkini tercatat sebanyak 300 Kepala Keluarga pengungsi di Desa Lero dan 200 Kepala Keluarga di Desa Lero Tatari.***

Sumber :  Muhammad Masykur ,Anggota DRPD Provinsi Sulteng

penulis/Editor    : Heru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *