Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

Bank Indonesia Siapkan Rp 1,7 Trilyun Uang Kartal Hadapi Ramadhan dan Idul Fitri 2018

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah,Miyono (foto:heru)

Palu,portalsulawesi.id- Dalam Mengantisipasi kebutuhan Uang Kartal di Bulan Ramadhan dan Jelang Idul Fitri 1439 Hijriah /2018,Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah Telah mengelontorkan Uang Kartal sebesar Rp.1,7 Trilyun untuk memenuhi Kebutuhan Uang di Sulawesi tengah,

Uang Kartal Yang Beredar diSulawesi tengah Masih dinominasi Pecahan Rp 100.000 sebanyak 1,1 Trilyun Rupiah ,Pecahan Rp 50.000,-Sebanyak 482 Milyar Rupiah,Pecahan Rp.20.000 Sebanyak 3,3 Milyar Rupiah.

Sementara Pecahan Rp.10.000 sebanyak 26 Milyar Rupiah,Pecahan Rp.5000,-Sebanyak 20,7 Milyar ,Pecahan Rp.2000 Sebanyak 13 Milyar serta Pecahan Rp 1000 sebanyak 5,5 Milyar dan Uang Logam sebanyak 1 Milyar.

Hal ini disampaikan Miyono,Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulteng Dalam Kegiatan Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional, di salah satu hotel di Kota Palu, Kamis (31/5/2018).

Sepanjang Triwulan I 2018,Perkembangan Uang Kartal Yang di edarkan Ke Masyarakat dan tercatat di Kantor perwakilan Bank Indonesia Sulawesi tengah mengalami net Inflow,Sesuai polanya Selama ini,Jumlah Aliran Uang Yang tercatat masuk (inflow) lebih Besar bila di bandingdengan Yang keluar (outflow),Sehingga Pada Triwulan I terdapat net Inflow sebesar Rp.842,25 Milyar.

Hal Ini Mengindikasikan Kebutuhan Uang Kartal Untuk Transaksi pembayaran mengalami penurunan,yang diantaranya disebabkan realisasi belanja Pemerintah pada triwulan ini belum berjalan Maksimal,karena berbagai Proyek barang dan Jasa masih dalam Tahap Pengadaan.

Selain Menyampaikan ketersediaan Uang Kartal saat Ramadhan dan Idul Fitri 2018,Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah Juga Merilis pertumbuhan ekonomi Sulteng pada triwulan I 2018 tumbuh sebesar 6,62 persen (yoy).

Kepala BI Perwakilan Sulteng Miyono menyebutkan, pertumbuhan ini mengalami peningkatan dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya 3,97 persen (yoy).

“Pertumbuhan ekonomi Sulteng ini juga lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yakni sebesar 5,06 persen (yoy),” kata Miyono

Namun kata Miyono, jika dibandingkan dengan capaian pada triwulan sebelumnya sebesar 9,15 persen, pertumbuhan ini mengalami sedikit perlambatan.

“Perlambatan pertumbuhan sesuai dengan pola atau siklusnya selama ini, karena adanya penurunan konsumsi di awal tahun bila dibandingkan dengan akhir tahun,” jelasnya.

Sementara dalam konteks penurunan konsumsi pemerintah daerah di awal tahun kata Miyono, karena belum maksimalnya maksimalnya pendapatan, berdampak pada sektor swasta, sehingga konsumsi rumah tangga atau masyarakat di awal tahun terindikasi juga menurun.

“Hal ini tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ke level 123,17 pada Maret 2018 dari Desember 2017 sebesar 137,” terang Miyono.

Ditambahkannya, meski terjadi penurunan konsumsi Sulteng masih berhasil mencatatkan angka pertumbuhan investasi dan ekspor yang relatif tinggi, seiring membaiknya harga nikel, Stainless steel dan LNG di pasar internasional yang menjadi komoditas andalan Provinsi Sulteng.

Sementara dari sisi lapangan usaha, BI Sulteng mencatat sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi kontributor utama pertumbuhan Sulawesi Tengah.

Pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian mencapai 15,43 persen yang tertinggi di antara sektor lainnya selama triwulan I 2018.

“Terjaganya permintaan dari negara mitra dagang atas LNG dan komoditas nikel beserta turunannya, berdampak positif pada kinerja sektor pertambangan dan penggalian sebagai pemasok bahan baku, sehingga memberi kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sektor lain yang juga menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar adalah sektor industri pengolahan, pertanian, perdagangan serta sektor infomasi dan komunikasi,” papar Miyono kepada puluhan wartawan.

Sementara industru pengolahan juga mencatatkan angka pertumbuhan yang cukup besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kapasitas pabrik dari berbagai industri pengolahan utama seperti smelter nikel di Morowali dan pengolahan LNG di Banggai telah berjalan hingga 100 persen.

Untuk mengeleminir atau meminimalisir Dampak negative dari beberapa faktor yang mempengaruhi Perekonomian Secara Global ,khususnya saat Ramadhan dan Lebaran, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Tengah bekerja Sama dengan Tim Satgas Pangan dari kepolisian Daerah perlu mengantisipasi dengan Langkah Langkah Kongkrit,terutama Dalam Upaya Menjamin Kecukupan Pasokan Barang dan Jasa.

Diantara Kegiatan antisipasi tersebut semisal melakukan Sidak Kepasar pasar guna memastikan Efektifitas penetapan harga Eceran tertinggi (HET),sidak Ke pedagang besar dan Distributor agar tidak terjadi penimbunan,menggelar Pasar murah,melaksanakan operasi pasar terutama beras serta mengendalikan kenaikan harga transportasi jelang Mudik lebaran terutama tiket pesawat udara.

“Masyarakat Sulteng saya himbau agar Belanja dengan Bijak dan tidak Panic buying “ Pesan Miyono ***

Penulis :Heru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *