Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng, Ir. Faizal Anwar, M.T didampingi Kepala Bidang Statistik Distribusi Moh. Wahyu Yulianto, S.Si.,SST,M.Si dan Kepala Bidang Statistik Sosial Sarmiati, S.E.,M.P.W saat merilis data strategis BPS, pada Selasa (2/1/2018), bertempat di Aula kantor BPS Sulteng. (fhoto:nila)
Palu Portalsulawesi. com – Upaya Tim Penanggulangan Inflasi Daerah (TPID) dalam menanggulangi inflasi pada bulan Desember, dianggap kurang berhasil. Karena terbukti inflasi di Kota Palu pada Desember 2017, mengalami lonjakan yang cukup tinggi dengan capaian angka inflasi hingga 1,87 persen. Dimana pada bulan November 2017, terjadi deflasi.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng, Ir. Faizal Anwar, M.T, kenaikan inflasi pada bulan Desember 2017 sebesar 1,87 persen, dinilai cukup tinggi. Hal ini dipicu oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama bulan itu terutama bagi mereka yang merayakan Natal dan Tahun Baru 2018.
setiap awal bulan BPS Sulteng merilis data strategisnya dengan menghadirkan pers dan dinas/instansi terkait dijajaran pemprov Sulteng. (fhoto:humas BPS Sulteng)
Secara rinci Kepala Bidang Statistik Distribusi Moh. Wahyu Yulianto, S.Si.,SST,M.Si menyebutkan bahwa lonjakan inflasi yang terjadi di bulan Desember 2017 antara lain disebabkan karena adanya peningkatan konsumsi rumah tangga terhadap beberapa komoditas bahan makanan terutama konsumsi pada ikan segar yang menjadi andil yang paling besar terhadap inflasi. “Komoditas ikan segar menjadi penyumbang inflasi paling besar dengan andil 1,1 persen dari 1,87 persen inflasi pada Desember 2017. Disusul oleh peningkatan jumlah penumpang yang menggunakan angkutan udara sebesar 1,22 persen. Dua komponen ini memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi di akhir tahun 2017,” papar Wahyu seraya menyebutkan bahwa secara tahunan, atau year on year laju inflasinya sebesar 4,33 persen.
Dari 346 komoditas yang dipantau setiap bulannya, kata Wahyu, ada lima komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi selain ikan cakalang dan peningkatan jumlah penumpang pada angkutan udara, juga terlihat adanya peningkatan konsumsi terhadap jenis ikan layang, ikan bandeng, telur ayam ras, dan bawang merah.
Sepanjang 2017, laju inflasi pada Desember ini paling tertinggi dengan capaian angka sebesar 1,87 persen. Selain itu, inflasi tertinggi juga terjadi diawal tahun 2017 yakni sebesar 1,32 persen. “Sudah lazimnya diawali dn diakhir tahun, pasti akan terjadi lonjakan inflasi di Kota Palu. Sehingga dibutuhkan penanganan yang jitu dari TPID Sulteng untuk melakukan strategi yang lebih baik dalam rangka mengendalikan inflasi khususnya dibulan-bulan tertentu, “ kata Wahyu berharap agar TPID Sulteng dapat mencarikan solusi yang lebih jitu lagi dalam menekan inflasi agar tetap terjaga.
Disebutkannya, Selama 2017, inflasi terendah sebesar 0,05 persen terjadi pada Juli dan Agustus. Selain itu juga selama 2017, telah terjadi tiga kali deflasi di Kota Palu dan deflasi tertinggi terlihat pada Oktober sebesar 1,31 persen dan deflasi terendah terjadi pada September 2017 sebesar -0,13 persen.
Jika melihat fluktuasi inflasi dalam tiga tahun terakhir, pada 2015 inflasinya mencapai 1,96 persen., kemudian pada 2016 terjadi penurunan inflasi sebesar 1,15 persen sementara pada 2017 terjadi lagi kenaikan inflasi mencapai 1,87 persen. “Inflasi di bulan Desember 2017 ini merupakan inflasi yang paling tinggi selama tiga tahun terakhir, “ ungkapnya.
Dari 82 kota pantauan IHK nasional, seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Jayapura sebesar 2,28 persen dan inflasi terendah di Kota Sorong sebesar 0,18 persen. Kota Palu mengalami inflasi sebesar 1,87 persen, menempati urutan kedua inflasi tertinggi di Kawasan Sulampua dan Nasional.
REDAKTUR :NILAWATI











