Portal Sulawesi.id– Apakah wanita itu makhluk emosional ??Pertanyaan ini sering muncul ,dan penting untuk di luruskan dengan adil. Wanita bukan “Mahluk yang emosinya campur –campur “ secara negatif,tapi wanita cenderung mengekspresikan emosinya dengan lebih kompleks .
Ungkapan “wanita adalah makhluk emosional” sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Kalimat ini seolah menjadi kebenaran umum yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika seorang perempuan menangis, marah, atau menunjukkan empati, ia kerap dilabeli emosional. Sebaliknya, laki-laki sering dianggap lebih rasional, tenang, dan logis. Namun, benarkah anggapan ini didukung oleh ilmu pengetahuan?
Dalam kajian psikologi dan ilmu saraf, emosi adalah bagian alami dari manusia,baik perempuan maupun laki-laki. Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tidak ada bukti kuat yang menyatakan perempuan memiliki emosi lebih banyak atau lebih berlebihan dibanding laki-laki. Yang berbeda justru terletak pada cara emosi diekspresikan dan dipersepsikan oleh masyarakat.
Maka, pertanyaannya bukan lagi “benarkah wanita makhluk emosional?”, melainkan mengapa ekspresi emosi perempuan lebih sering disorot dan distigmatisasi? Dengan memahami bahwa emosi adalah bagian universal dari kemanusiaan, kita dapat mulai meninggalkan stereotip lama dan membangun pandangan yang lebih adil terhadap peran dan ekspresi emosi, baik pada perempuan maupun laki-laki.
Dalam ilmu kesehatan mental, emosi dipahami sebagai respons biologis dan psikologis yang dimiliki semua manusia, tanpa membedakan jenis kelamin. Namun, penelitian menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki cenderung mengekspresikan emosi dengan cara yang berbeda, bukan karena salah satunya lebih sehat atau lebih lemah, melainkan karena kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial.
1. Ekspresi Emosi pada Perempuan
Secara umum, perempuan lebih terbuka dalam mengekspresikan emosi secara verbal. Menangis, berbagi perasaan, dan mencari dukungan sosial adalah cara yang sering digunakan. Dari sudut pandang kesehatan mental, ini tergolong strategi koping yang adaptif, karena membantu mengurangi stres dan mencegah penumpukan emosi.
Tara M. Chaplin — dalam tulisannya Gender and Emotion Expression: A Developmental Contextual Perspective Penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung: Lebih mudah mengidentifikasi dan menamai emosi (emotional awarness),Lebih sering mencari bantuan saat mengalami tekanan psikologis,Mengalami emosi seperti sedih dan cemas secara lebih intens, tetapi juga lebih cepat mencari pertolongan.
Namun, jika tekanan berlangsung lama tanpa dukungan memadai, perempuan berisiko mengalami gangguan kecemasan atau depresi, bukan karena emosinya, tetapi karena beban peran sosial dan tuntutan emosional yang tinggi.
2. Ekspresi Emosi pada Laki-laki
Laki-laki, dalam banyak budaya, diajarkan untuk menahan atau menyembunyikan emosi, terutama emosi yang dianggap sebagai tanda kelemahan seperti sedih atau takut. Dari perspektif kesehatan, emosi yang ditekan bukan berarti hilang, tetapi sering muncul dalam bentuk lain.
Secara kesehatan mental, laki-laki cenderung:Mengekspresikan emosi melalui tindakan, bukan kata-kata Lebih sering menunjukkan emosi dalam bentuk marah, mudah tersinggung, atau perilaku berisiko Lebih jarang mencari bantuan profesional, meski mengalami stres berat.
Penekanan emosi yang berlangsung lama dapat berdampak pada kesehatan fisik, seperti tekanan darah tinggi, gangguan tidur, serta risiko gangguan kesehatan mental yang tidak terdeteksi.
3. Peran Hormon dan Otak
Dalam penelitiannya Robert A. Josephs (USA) — Behavioral Endocrinology Dari sisi biologis, hormon seperti estrogen, progesteron, dan testosteron memengaruhi regulasi emosi, tetapi tidak menentukan kualitas atau nilai emosi seseorang. Struktur otak perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki sistem pengatur emosi (amigdala dan korteks prefrontal), hanya saja strategi pengelolaannya yang bisa berbeda.
Ilmu kesehatan menegaskan bahwa perbedaan hormon tidak dapat dijadikan dasar bahwa satu gender lebih emosional dari yang lain.
4. Dampak Kesehatan jika Emosi Tidak Terekspresikan dengan Sehat Baik perempuan maupun laki-laki akan mengalami dampak kesehatan bila emosi tidak dikelola dengan baik, antara lain: Stres kronis,Gangguan tidur,Kecemasan dan,depresiPenyakit psikosomatis (sakit kepala, gangguan lambung) Karena itu, kesehatan mental menekankan pentingnya ekspresi emosi yang sehat, bukan siapa yang lebih emosional.
5. Perspektif Kesehatan Modern
Pendekatan kesehatan modern menekankan bahwa: Menangis, berbicara, dan mencari bantuan adalah respons sehat Menahan emosi berlebihan justru berisiko bagi kesehatan Kesehatan mental terbaik dicapai ketika individu—baik perempuan maupun laki-laki—mampu mengenali, menerima, dan mengekspresikan emosi secara seimbang
Kesimpulan
Menurut ilmu kesehatan, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki emosi yang kompleks. Perbedaannya terletak pada cara mengekspresikan dan mengeloemosi, yang sangat dipengaruhi oleh budaya dan pendidikan, bukan semata faktor biologis. Emosi bukan kelemahan, melainkan bagian penting dari kesehatan mental dan kualitas hidup manusia.***Pewarta Ratu









