Jakarta, Portalslawesi.com – Anggota Komisi V DPR RI, Rendy M. Affandy Lamadjido menilai keseringan maskapai Lion Air delay (penundaan) jadwal penerbangan lantaran mempunyai banyak beban managemen.
Sebelumnya, sejumlah layanan penerbangan Lion Air mengalami delay atau keterlambatan jadwal penerbangan. Hal ini menjadi perhatian publik, akibat membludaknya penumpang disejumlah Bandara termasuk di Bandara Soekarno-Hatta.
“Saya pikir yang pertama Lion grup ini kan bebannya berat sekali. Karena dia punya perusahan kurang lebih ada 5 kalau tidak salah. Menyangkut dalam negeri saja mereka punya perusahan ada 3. luar negeri ada 3 juga yakni Malaysia, Thailand dan Vietnam,” ujar Rendy kepada di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (4/7/2017).
Untuk itu, Rendy yang juga Politisi PDIP ini meminta pemerintah mewaspadai masalah tersebut.
“Ini memang pemerintah sudah seharusnya mewaspadai. Karena memang bebannya sangat berat dimana manajemen-managemen itu belum bisa mengcover secara keseluruhan terutama terkait managemen keselamatan,” jelasnya.
Dalam mewaspadai hal tersebut kata Politisi asal Sulawesi Tengah ini, pemerintah harus selektif dalam memberikan trayek baru terhadap Lion Air Grup.
“Ini yang kita lihat bahwa akhirnya gara-gara kerusakan teknis itu membuat delay pada setiap penerbangannya dia. Ini barangkali saya berharap pemerintah mewaspadai tentang ini dan supaya tidak mudah memberi mereka trayek-trayek baru,” tegasnya.
Pihak maskapai penerbangan Lion Air tidak mengelak jika kerap disebut sebagai maskapai penerbangan yang sering mengalami keterlambatan atau delay.
Maskapai penerbangan berlogo Singa itu pun mengakui, perkara tertunda alias delay yang harus mereka tangani ini berada di kedua sisi, baik di faktor internal maupun eksternal.
Managing Director Lion Air Daniel Putut Kuncoro Adi memastikan, pihaknya akan segera membenahi kedua faktor tersebut dengan memprioritaskan pembenahan internal, demi memperbaiki servis kepada penumpang dan memperbaiki kondisi pesawat serta kapasitas kru.
“Di sektor operasional, concern kami pada faktor internal. Seperti misalnya pada kondisi pesawat dan kru. Kami mencoba terus mencari alternatif bagi keduanya demi perbaikan layanan,” kata Daniel di kantor Kemenhub, Jakarta Pusat.
Sementara untuk faktor eksternal sendiri, Daniel mengakui jika aspek tersebut setidaknya pasti juga dirasakan oleh semua maskapai, misalnya seperti kendala cuaca, lalu lintas udara, kondisi station, atau bahkan bandara.
Reporter: Arief








