Donggala,portalsulawesi.id.
Selain di kenal sebagai pusat produksi kain tenun sarung Donggala, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah juga dikenal dengan berbagai tempat wisatanya yang eskotik. Salah satu tempat wisata yang mulai ramai di kunjungi wisatawan di daerah itu adalah Pantai Kaluku.
Pantai Kaluku berada sekitar 5 kilometer arah Tenggara desa Limboro. Pantai ini memiliki air laut yang jernih dengan hamparan pasir putihnya nan elok. Disepanjang pantai, rimbun pohon-pohon kelapa berdiri kokoh dengan nyiurnya yang melambai.
Kaluku dalam dialeg suku kaili berarti kelapa.Tanaman tahunan ini menjadi komoditi unggulan di Kabupaten Donggala. Dulu,salah satu kejayaan pelabuhan Donggala berasal dari kelapa yang diolah menjadi kopra yang kemudian diekspor ke Makassar dan Surabaya. Setelah pelabuhan dipindahkan ke Pantoloan, aktifitas pengiriman kopra menjadi sepi.
Di desa Limboro, sepanjang pantainya banyak ditumbuhi pohon kelapa sangat tinggi menjulang. Ada juga pohon kelapa yang masih muda dengan buah yang besar-besar. Karena ditumbuhi banyak pohon kelapa itulah, orang-orang di desa itu menyebut pantai yang siang malam dikunjungi wisatawan dari berbagai kota di Indonesia ini dengan julukan Pantai Kaluku.
Sepintas, pantai Kaluku tak seindah dengan pantai Tanjung Karang, Kecamatan Banawa, atau pantai Labuana, Kecamatan Sirenja. Namun pantai Kaluku memiliki daya tarik tersendiri. “Natural dan ekskotik,” Demikian tanggapan dari wisatawan yang datang berkunjung ke pantai itu.
Sepasang pengantin muda ditemui Donggala Notutura mengungkapkan, sudah dua kali keduanya menghabiskan akhir pekan di pantai Kaluku. Keduanya merasa betah berada dan menghabiskan waktu di pantai tersebut.

“Tempatnya tenang bang. Masih natural,” kata pasangan itu. Minggu (26/6/2016)
Selain tenang dan natural kata keduanya berkunjung kepantai Kaluku tidak dipungut biaya apapun. “Pengunjung bebas masuk, tidak ada tarif, baik karcis masuk maupun parkir tidak dibayar,” kata mereka tertawa.
Menurut penuturan Anton, tokoh pemuda setempat, mereka sengaja tidak memasang tarif masuk ataupun parkir untuk pengunjung yang datang. Ia dan beberapa rekanya yang lima bulan terakhir ini aktif mengelola tempat tersebut berniat menjadikan wisata Pantai Kaluku bebas dari tarif.
“Kita tidak ingin ada pungutan di pantai ini. Tempat ini free dari karcis masuk hingga parkir kendaraan para pengunjung yang datang. Tapi kami menyediakan kebutuhan mereka selama liburan disini seperti makanan dan air mineral. Kalau mereka lapar tinggal beli saja di warung,” ucapnya.
Disepanjang pantai, Anton dan kawan-kawanya mendirikan gazebo sederhana dari bambu beratapkan daun kelapa. Pengunjung boleh berteduh tanpa bayar. Selain itu, mereka juga menyiapkan tiga buah ayuna yang disematkan didahan pohon dekat bibir pantai. Ayunan itu disebut dengan ayunan jodoh.
Di Pantai Kaluku juga terdapat hutan mangrove seluas kurang lebih 3 hektare.Anton berencana akan membuat jembatan dari bambu diantara pohon-pohon mangrove itu agar para pengunjung bisa masuk kedalam rimbunan mangrove melalui jembatan tersebut.
“Hutan mangrove itu juga menjadi spot wisata di Pantai Kaluku. Kami berencana akan membuat jembatan, biar pengunjung bisa menikmati hutan mangrove dari dalam atau sekedar foto-foto” imbuhnya.
Semenjak pantai Kaluku mulai ramai dikunjungi wisatawan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisiata Kabupaten Donggala mencoba menawarkan kerjasama dengan Anton dan kawan-kawanya. Namun niat itu ditolak oleh Anton.
Selain Anton, juga ada salah satu tokoh penggerak di tempat itu, Erlan, menolak dengan halus ajakan kerja sama dari Disbudpar Donggala.
“Kita tidak ingin tempat ini dikomersilkan. Sejak awal kita berniat pantai Kaluku terbuka untuk siapa saja yang berkunjung dan berlibur tanpa pungutan biaya apapun,” pungkas Erlan.
sumber :Donggala Notutura









