Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

Konsumsi Ikan Segar Meningkat Picu Kenaikan Inflasi di Kota Palu

BPS Sulteng saat merilis data strategis terutama soal inglsi yang terjadi di Kota Palu dengan capaian angka 0.05 persen (Foto:Nila)

PALU Portalsulawesi. com – Pada Agustus 2017, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,05 persen dan menempatkan ibukota Provinsi Sulteng  pada urutan ke-5 inflasi tertinggi di Kawasan Sulampua dan ke-32 secara nasional.

 Kepala BPS Sulteng, Ir.Faisal Anwar, MT memaparkan soal capaian inflasi Kota Palu sebesar 0,05 persen secara umum dipengaruhi oleh naiknya indeks harga pada kelompok bahan makanan (1,53 persen), diikuti oleh kelompok kesehatan (0,27 persen), makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,26 persen), sandang (0,24 persen), serta pendidikan, rekreasi, dan olahraga (0,04 persen).

Sementara pada periode yang sama, penurunan indeks harga terjadi pada kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan (1,80 persen) serta perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,05 persen).

Masih pada bulan yang sama, inflasi di Kota Palu secara year on year sebesar 5,36 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 8,90 persen, sedangkan yang terendah terjadi pada kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,31 persen.

 Inflasi Kota Palu sebesar 0,05 persen berasal dari andil kelompok pengeluaran bahan makanan (0,315 persen), makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,056 persen), sandang (0,012 persen), kesehatan (0,010 persen), serta pendidikan, rekreasi, dan olahraga (0,002 persen). Sementara andil negatif berasal dari kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan (0,332 persen), serta perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,013 persen).

Dalam kesempatan yang sama,  Kepala Bidang Statistik Distribusi Moh. Wahyu Yulianto, S.Si.,SST,M.Si, lebih rinci menjelaskan bahwa ada lima komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi yakni ikan cakalang (0,14 persen), ikan layang (0,14 persen), daging ayam ras (0,06 persen), cabai rawit (0,06 persen), ikan ekor kuning (0,05 persen) dan ikan selar (0,05 persen).

Secara nasional disebutkan inflasi tertinggi terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 1,09 persen, sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Ambon sebesar 2,08 persen. ***

Reporter : N I l a w a t y

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *