Palu,portalsulawesi.id- Belum lama dilantik menjadi Rektor Universitas Tadulako,Profesor Mahfud mulai di”goyang “ berbagai macam isu miring,beberapa kebijakan mantan Pembantu Rektor (PR) II di untad ini membuat gelisah civitas kampus negeri dibumi tadulako ini.
Kebijakan yang membuat Gelisah para mahasiswa adalah Revisi terkait tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT) kategori ( K)-1 yang sebelumnya dibayarkan Rp.500 ribu / semester dikembalikan ke Kategori (K)-III dengan kewajiban pembayaran sebesar Rp.1.750.000,/semester,
Semasa kepemimpinan Basir Chyo,Uang Kuliah Tunggal diterapkan pada standar terkecil yakni Rp.500.000/semester,kebijakan Basir Chyo kala itu membuat banyak Mahasiswa berekonomi lemah dapat terbantu penyelesaian studinya di Kampus kebanggaan Daerah Sulawesi tengah ini.
Tetapi,Kebijakan tersebut direvisi oleh Mahfud selaku Rektor Untad terpilih yang dilantik pada tahun 2019 ,dengan alasan sudah sesuai keputusan menteri,para mahasiswa di untad wajib membayar UKT sebesar Rp.1.750.000/ semesternya.
“ Klu UKT sdh sesuai ketentuan peraturan menteri pak, k1 + k2 + bidik misi minimal 20 persen, data yang d laporksn k sy oleh bakp total lebih 22 persen “ jelas Rektor Untad,Mahfud.
Uang Kuliah Tunggal atau biasa disingkat UKT merupakan sebuah sistem pembayaran yang saat ini berlaku untuk seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia . Ketentuan ini diberlakukan berdasarkan Permendikbud No. 55 Tahun 2013 pasal 1 ayat 3, yakni setiap mahasiswa hanya membayar satu komponen saja per semester, UKT dibayarkan setiap memulai awal semester baru.
“kasian kami ini,dengan kondisi ekonomi yang belum stabil pasca bencana,orang tua kami harus berusaha memenuhi kewajiban membayar UKT sebesar Rp.1,750.000 ,studi kami terancam putus kalo begini keadaanya” keluh salah satu mahasiswa korban Tsunami yang meminta identitasnya tidak dimediakan.
Penelusuran media ini, selain masalah UKT,Kabar ” Bisnis” Mahasiswa Bidik Misi juga merebak,tahun Ajaran 2019/2020 ,Penerimaan Mahasiswa Baru lewat Jalur bidik misi meningkat tajam,setidaknya ada sekitar 1828 orang calon mahasiswa bidik misi yang lulus baik lewat jalur SNMPTN maupun SBMPTN, tahun 2019 ini calon mahasiswa yang lulus sebanyak 4184 orang.
Sayangnya,berhembus kabar jika Program Bidik Misi dijadikan celah oleh sekelompok orang untuk mengatur Kerabatnya untuk dapat diterima belajar dikampus Untad lewat Jalur Bidik Misi, santer terdengar kabar calon mahasiswa dari kalangan Keluarga dekat,Kolega dan Titipan pejabat banyak yang “lolos” masuk .
Rektor Untad,Profesor DR.Ir Mahfud Mp mengakui jika masalah Mahasiswa Bidik Misi yang lulus masuk Ke perguruan Tinggi di Untad lebih banyak daripada Kuota yang dimiliki,untuk itulah dirinya sedang berusaha untuk meminta tambahan Kuota dan bantuan pendanaan kepada pemerintah baik Propinsi maupun Kabupaten.
“ Memang yang masalah besar kita pak ysng lulus bidik misi 1800 jalur sbmptn, sedangkan alokasi dans yang tersedia dari kemeritek 1000 orng sehingga 800 orng d batalkan bidikmisinya, tspi kita menunggu mogs2 surat saya k pak menteri mendapat respon pak untuk ditambah bidikmisinya “ ungkapnya.
“saya juga sudah menyurat ke pak Gubernur dan Bupati untuk membantu “ tambahnya.
Disisi lain, dugaan Prakter Kotor “Penjatahan “ Mahasiswa Penerima Bidik Misi semakin santer terdengar takkala Mahfud,selaku Rektor Untad diduga mulai membangun Dinasti Kekuasaan ,isu yang berkembang adalah praktek Kolusi dan Nepotisme yang berhubungan dengan pengangkatan pejabat di dalam lingkup pengelolaan Kampus Tadulako.
Suara suara sumbang pun mulai terdengar berisik dikampus kenamaan Sulawesi tengah ini,salah satu yang paling menonjol adalah keputusan Profesor Mahfud yang melantik Menantunya Bochari S.Gz. M.Kes diangkat sekretasi pusat, ,padahal yang bersangkutan masih berstatus Honorer.
Terkait pengangkatan Buchari,Profesor Mahfud mengakui ada kesalahan penerbitan Surat Keputusan (SK),saat ini jabatan sekertaris Pusat sudah diganti kembali dan SK yang keliru tersebut telah direvisi.
“Oh iye pak, mohon maaf terkait tenaga honorer tsb sdh d revisi sk nya, sdh jd staf biasa “ tulis Profesor Mahfud melalui pesan singkatnya di WhastAap ke redaksi Portalsulawesi.***
Penulis : Tim Portalsulawesi








