Donggala,portalsulawesi.id– Kecamatan Sirenja,kabupaten Donggala merupakan salah satu wilayah penghasil PAD dari sector perikanan dan Pertanian di pesisir barat,Sebelum bencana gempa besar datang dengan kekuatan 7,4 Skala Richter (SR), wilayah ini termasuk salah satu wilayah yang tingkat perekonominannya tumbuh pesat.
Sumber penghidupan warganya sebagian besar dari sektor pertanian dan perikanan laut. Namun sore itu, Jumat (28/9) saat bencana Lindu menerjang, sekejab wilayah itu jadi porak poranda. Tidak ada yang tersisa. Yang ada hanya hamparan puing sisa bangunan di sepanjang pesisir Desa Tanjung Padang, Tompe dan Lende Ntovea akibat disapu tsunami.
Namun berbeda dengan warga korban di wilayah lain, warga pesisir pantai Sirenja kini mau tak mau harus “bersahabat” dengan masalah bawaan baru pasca bencana gempa dan tsunami, banjir Rob. Banjir Rob tiap hari menerjang dan menggenangi Dusun 1 dan 3 Desa Tompe, Dusun 1, 2 dan 3 Desa Tanjung Padang dan Dusun 1, 2 dan 3 Desa Lende Ntovea.
Di tiga desa tersebut sebanyak 773 Kepala Keluarga (KK) tidak lagi memiliki rumah tinggal. Masing-masing 342 KK di Desa Tanjung Padang, 174 KK di Desa Lende Ntovea dan 275 KK di Desa Tompe. Kini, sebagian mereka hidup di tenda pengungsian, sebagian lagi berinisiatif secara swadaya membangun hunian sementara (Huntara) dari sisa puing bangunan rumah yang bisa dimanfaatkan.
Kami harus bangkit, menunggu Huntara dari pemerintah sampai kapan belum ada kejelasan. Tidak mungkin kami terus menerus tidur di tenda seadanya. Sudah tidak layak lagi karena malam hari pasti air laut naik menggenangi lapangan dan tenda pengungsian. Lapangan bola Desa Tompe dijadikan tempat Huntara versi warga, ujar Riswan.
Namun menurutnya, akibat genangan air laut dan hujan di lokasi pengungsian ini bisa jadi sumber penyakit seperti malaria dan penyakit lainnya. Sehingga tugas bersama selanjutnya bersama warga dihimbau jaga lingkungan sekitar, terutama masalah sampah dan limbah lainnya.
Tasrifin Rajamusu, tokoh masyakat, menyarankan pemerintah daerah perlu segera memutuskan soal lokasi hunian ratusan KK yang tidak punya rumah. Kini muka air lau naik, sekitar 150 meter pesisir daratan di Desa Tompe hilang.
“ Ada beberapa lokasi yang bisa dipilih. Asal tidak jauh dari pantai yang penting aman dihuni. Ya, jangan jauhkan nelayan dari laut karena sandaran hidup kami hanya di laut “ Ungkapnya lirih.
Ia melanjutkan apalagi tidak lama lagi datang angin barat, bulan November-Desember. Hal demikian butuh perhatian sejak dini karena air laut naik tinggi sampai jauh ke wilayah daratan. Jadi yang perlu disegerakan tata hunian warga dan penuhi alat produksi nelayan, agar bisa kembali beraktifitas seperti semula.
Sementara itu,Kepala Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Donggala,Akris Fattah mengatakan bahwa Pemerintah telah membangun beberapa titik hunian Sementara di wilayah wilayah tersebut melalui Kementrian PUPR.
“Pembangunan Huntara di Wilayah Pantai Barat khususnya di wilayah Tompe,Sirenja,Lombonga dan lero sementara dikerja oleh Kementrian PUPR,tetapi ada juga Hunian sementara dibangun oleh NGO seperti Aksi Cepat Tanggap dll “ kata Akris Fattahketika dikonfirmasi oleh media ini.
Menanggapi hal tersebut diatas,Tokoh pemuda asal Tompe,Faisal kepada portalsulawesi mengatakan Hunian sementara yang dibangun pemerintah masih berupa Tenda tenda hunian darurat,bukan Hunian sementara seperti di wilayah Kota Palu dan Sigi.
“Huntara kami disini (Tompe/red) masih berupa tenda tenda bantuan ,belum berupa huntara yang dibangun menyerupai rumah layak huni seperti dikota Palu dan kabupaten Sigi,kami terpaksa membangun rumah darurat disebelah reruntuhan rumah kami walau harus terendam air laut saat pasang “ Ungkapnya prihatin.
Muhammad Masykur mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib penyintas bencana diwilayah pesisir barat kabupaten Donggala ini,menurutnya derita yang berkepanjangan dari warga Sirenja khususnya yang terpapar bencana Tsunami dan gempa bumi segera ditangani pemerintah baik propinsi maupun kabupaten.
“kebutuhan pokok hunian sementara yang memenuhi standar kesehatan dan memiliki sarana umum seperti MCK dan Fasilitas ibadah sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Kecamatan Sirenja ini,apalagi sekarang masyarakat harus menghadapi banjir Rob akibat air laut yang pasang,ini berpotensi menyebabkan masalah kesehatan serius “ Jelas mantan Aktivis yang sukses jadi legislator tersebut kepada media ini.***
Penulis : Heru
Narasumber : Muhammad Masykur,Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulteng











