Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

Hidup Didaerah Gempa, Masyarakat Sulteng Sulteng Harus Kuat

Gubernur Sulteng, Longki Djanggola mengapresiasi kegiatan seminar nasional yang diselenggarakan ACT pasca bencana di Sulteng. (Foto:Nila)
PALU Portalsulawesi. com – Kota Palu dan wilayah Sulawesi pada umumnya menurut para ahli merupakan daerah yang rawan gempa karena masuk zona merah, untuk itu kita harus bersahabat dengan gempa.
Maksud bersahabat dengan gempa, jelas Longki, masyarakat Sulteng harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah, misalnya tidak membangun pemukiman diatas zona merah dan tidak mendirikan bangunan melebihi empat lantai.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Sulawesi Tengah, Drs. H. Longki Djanggola, M.Si pada acara Seminar Nasional Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi di Sulteng yang bertemakan Sebuah Pelajaran Bagi Mitigasi Bencana, bertempat di ballroom Hotel Citra Mulia, Rabu (7/11/2018).
Gubernur Sulteng, Longki mengatakan meskipun dirinya bukan ahli atau teoritis gempa, tsunami atau Likuifaksi, tapi dari keterangan para ahli dan berdasarkan pengalaman sebelumnya, Sulteng memang salah satu provinsi yang masuk zona merah atau berada di jalur patahan sesar Palu Koro.
Mengantisipasi hal itu, diperlukan revisi RTRW, yang kebetulan menjadi topik utama pertemuan gubernur bersama instansi terkait lainnya dipimpin Langsung Wakil Presiden RI Yusuf Kalla , bertempat di Istana Wakil Presiden pada 5 November 2018, yang juga dihadiri oleh Menko Polhukam, Kepala BPN RI, Bappenas , Kementrian PUPR, Gubernur sulteng, Ketua DPRD prov sulteng, Walikota palu dan Ketua DPRD kota Palu .
Untuk itu, pembangunan yang berkelanjutan di wilayah sulawesi tengah diminta untuk dipercepat kajiannya terhadap wilayah wilayah yang berada pada Zona Merah yang tidak bisa didirikan bangunan kedepan karena rawan dampak bencana.
Menindaklanjuti hal itu, pemprov Sulteng segera menetapkan Lokasi Relokasi sesuai SK Walikota dan Bupati Sigi dan prosesnya Berpedoman pada UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah , demikian juga Menteri PUPR meminta agar Badan Geologi dapat mempercepat kajian tentang penetapan wilayah yang dapat dibangun dan lokasi wilayah yang tidak dapat dibangun ,
“Saya mengapresiasi atas terselenggaranya seminar nasional ini termasuk peran serta ACT dalam memberikan dukungannya pasca bencana di Sulteng.
Sementara itu Presiden ACT, Ahyudin, mengakui bencana yang sangat besar sehingga menjadikan Sulteng terutama Kota Palu, Sigi dan Dongga makin terkenal dan mendunia. “Bencana di Sulteng mengandung tiga unsur yakni ancaman, rentangan dan resiko,” jelas Ahyudin.
Hadir sebagai narasumber, Dosen dan Peneliti Sesar Palu-Koro Untad,, Drs. Abdullah, MT, Kabid Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami, BMKG, DR. Daryono S.Si, M.Si, Kasubbid Evaluasi Geologi Teknik, Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Ginda Hasibuan, ST, MT dan Kasie Pengkajian Resiko Kedeputian Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB.

REDAKTUR :Nila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *