Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

Miris,Warga Trans Wandiri Muna 13 Tahun “Nikmati” Akses Jalanan Rusak

Sultra-Muna, portalsulawesi.id– Masyarakat Desa persiapan Wandiri dari pecahan induk Kelurahan Labunia kecamatan Wakorumba Selatan Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara, mengeluhkan akses jalan yang tidak mendapat perhatian dari pemerintah Pusat dan Daerah.

Semenjak Kementrian Transmigrasi dan Ketenaga Kerjaan tahun 2005 meluncurkan program Unit Penempatan Transmigrasi (UPT) Labunia dengan penduduk lokal dan nasional. Sebanyak 200 kepala keluarga dengan 1005 jiwa, pembagian lahan bersertifikat seluas 2 hektar terbagi didua wilayah yakni SP1 dan SP2.

Imam Syafii (48) Kepala Desa Persiapan Wandiri mengatakan, dari penempatan transmigrasi tahun 2005 sampai tahun 2010 diserahkan kepemerintah daerah Kabupaten Muna, sampai saat ini, Desa persiapan Wandiri tidak tersentuh oleh bantuan pemerintah, khususnya akses jalan.

“Tahap awal sejak transmigrasi didiami, tidak pernah merasakan jalan aspal, hanya jalan rintisan dan pengerasan yang sudah berlubang dan berbatu dengan kondisi sulit ditempuh kendaraan sebab terjal dan menanjak”, kata Imam kepada Potalsulawesi.com di Desa Wandiri, selasa (25 September 2018).

Dia menambahkan, Situasi jalan saat ini sudah tidak layak, sudah tidak bisa masuk mobil, hanya motor yang tembus dengan orang yang mahir, apalagi dimusim penghujan, motorpun sulit untuk bisa tembus ke Desa wandiri atau keluar dari Desa.

“Daerah Transmigransi ini tanahnya subur, sehingga Desa ini menghasilkan berbagai macam hasil bumi, dulu padi dan coklat tapi sudah tidak terawat sebab tidak ada pembeli dan biaya transpotasi yang mahal bila dijual ke kelurahan Labunia. Untuk mengatasi sulitnya hidup, nilam sebagai tanaman yang dipilih untuk bertahan hidup sebab pembeli datang ke Desa menggunakan motor,” ungkap Kades Wandiri yang pernah menjadi Daerah Lumbung beras Muna.

Akibat ekonomi yang tidak berkembang banyak yang pergi merantau kedaerah lain bahkan sampai ke sorong, meninggalkan lahan pembagian dan rumah transmigrasi, demi mencari sumber kehidupan buat keluarganya, katanya.

Pernah dijanji oleh kepala dinas nakertrans Muna Fajarudin Wunanto beberapa bulan lalu, akan mulai dilakukan pengaspalan pada tahun 2019 nanti, tuturnya.

Harap Kades yang tiga anak ini, “semoga bisa terealisasi sebab ini menjadi kebutuhan masyarakat serta ekonomi masyarakat transmigrasi bisa berkembang”.

Kepala Desa Persiapan Wandiri Imam Syafii (ujung kiri) bersama warga Frengki (baju hitam tengah) Ibu Priana (gendong anak baju merah),Foto:Halim

Sebagai warga negara Indonesia, kita juga harus diperhatikan oleh pemerintah. Disisi lain, akibat akses jalan yang rusak diduga ini yang melandasi Puskesmas Pembantu tidak aktif petugasnya sehingga ruangan kosong dan tidak terawat, kesalnya.

Frangki Warga Desa Wandiri yang sudah berdiam selama 14 tahun, hasil dari bertani dibawah pake motor bagi yang memiliki, bila tidak dipikul.

“Saya berharap jalan desa bisa diperhatikan pemerintah daerah dan pusat, juga Desa kami bisa segera devinitif,” ungkapnya.

Ibu lima anak Priana (39) saat ditemui menyatakan, dalam membawah hasil panen, ongkos muat setiap 1 kg ongkosnya Rp. 1000, jadi kalau harga pisang 20 ribu pertandan, ongkos ojeknya 50 ribu, jadi barang bawaan hasil bumi kita, percuma tak memberikan hasil, begitu juga hasil bumi yang lain.

“Biasanya kami pikul berjalan kaki hasil panen untuk dijual kepasar di Kelurahan Labunia mulai berangkat sekitar pukul 02.00 atau 03.00 wita subuh, baru sampai dipasar pure atau kelurahan Labunia tiba pukul 06.00 wita, pulang dari pasar sekitar pukul 08.00 wita dan sampai dirumah sekitar pukul 11.00-12.00, sebelum pulang, hasilnya dipake untuk membeli kebutuhan dikampung,” jelasnya.

Dari perjalanan media ini, terlihat jalan berlubang dan bebatuan cadas besar sebagai rintangan, dengan jarak 6 km dari pelabuhan Labunia ke Desa Wandiri, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.***

Laporan : M.La Ode Halim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *