Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

15 Warga Filipina Diselamatkan Nelayan Buol Setelah 13 Hari Terkatung- Katung Dilautan Lepas

Buol ,Portalsulawesi.Id– Nelayan Buol dihebohkan dengan penemuan sekeluarga warga negara asing asal Filipina yang terdampar diperairan kabupaten Buol ,Sulawesi Tengah. Operasi penyelamatan ala nelayan setempat sangat dramatis, 15 orang warga Filipina yang merupakan satu rumpun keluarga ditemukan lemas dan kelaparan serta dehidrasi diatas speedboat usai berhari hari tidak makan dan minum.

Wajah wajah putus asa para penumpang perahu jenis speedboat tampak merekah takkala  mereka melihat kapal nelayan asal Buol yakni Muhammad Rusman (Cici), pak Bandir sebagai kepala rombongan nelayan asal Filipina yang terdampar itu lantas berteriak minta tolong .

Pemilik kapal yang kerap disapa Cici pun mengarahkan perahunya kedekat speedboat yang terombang ambing ditengah lautan lepas tersebut, dengan peralatan seadanya mereka melakukan penyelamatan dengan menarik kapal milik warga negara Filipina itu ke dermaga nelayan terdekat.

Warga negara Filipina yang terdampar merupakan satu keluarga yang terdiri dari 7 orang dewasa dan 8 anak-anak serta balita, termasuk seorang bayi berusia 6 bulan, keluarga nelayan ini dipimpin oleh pria  yang diketahui bernama pak Bandir.

Kronologi Kejadian Awal Musibah Terlantar di Lautan Luas

Dilansir dari Tabenews.com, media patner portalsulawesi.Id , Pak Bandir menceritakan petaka yang menimpa keluarganya sebelum ditemukan nelayan Buol . Menurut Bandir, dia bersama keluarga besarnya adalah warga Filipina yang bermukim dikepulauan Tawi-Tawi di Negara Filipina.

Dalam wawancara dengan Pak Bandir, ia menjelaskan bahwa perjalanan laut tersebut bermula dari Sempurna, Sabah, Malaysia, dengan tujuan menuju Filipina (Tawi-Tawi) untuk menghadiri hajatan keluarga. Mereka sekeluarga berangkat sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat, dengan estimasi perjalanan laut hanya sekitar 8 jam.

Sayangnya, perahu yang mereka tumpangi dihajar badai dan cuaca buruk. Gelombang tinggi diperairan lepas serta badai membuat perahu kecil yang sarat penumpang itu oleng dan nyaris tenggelam.

Gelombang tinggi dan cuaca buruk di sekitar perairan Pulau Tawi-Tawi.pada hari kedua pelayaran mereka membuat perahu mulai oleng dan kemasukan air, memaksa seluruh penumpang membuang semua barang bawaan ke laut, termasuk mesin perahu, demi mengurangi beban agar tidak tenggelam.

Masih menurut pak Pandir, dalam kondisi darurat tersebut, salah satu anak Pak Bandir, seorang laki-laki berusia 27 tahun, nekat melompat ke laut dengan berpegangan pada sebuah jerigen.

Aksi ini kemudian diikuti oleh suami dari Ibu Lisa, yang juga melompat dan berpegangan pada jerigen yang sama untuk menyelamatkan diri menuju daratan, yang masih berada di wilayah Malaysia.

Dalam keputus asaan, pak Bandir memberi penguatan kepada rombongan yang tersisa untuk bertahan hidup dengan meminum air hujan dan memakan biskuit bekal perjalanan yang masih tersisa. Meski mengaku kecewa atas keputusan tersebut karena sang suami meninggalkan istri dan keempat anaknya dalam kondisi kritis,dirinya memilih untuk tetap bertahan bersama keluarga yang tersisa, apapun risikonya.

Untuk mengayuh perahu yang mereka tumpangi, pak Bandir hanya mengandalkan tutup ember sebagai pengganti dayung. Mereka pasrah dengan keadaan dan mengikuti arah angin dan arus laut ,mereka menyerahkan hidup mereka dengan takdir selama 13 hari sebelum ditemukan.

Berbekal keyakinan akan pertolongan Tuhan, rombongan keluarga kecil asal Filipina ini terus bertahan hidup diantara luasnya samudra. Perut yang kosong dan dahaga yang mendera ditambah sengatan matahari membuat tubuh tubuh mereka semakin lemah, bahkan balita yang turut serta ikut dalam pelayaran itu terus menangis akibat kelaparan dan kehausan.

Pada hari ke 13 pasca terkatung katung ditengah lautan, mereka melihat sebuah kapal nelayan yang melintas . Dengan sisa kekuatan yang ada, pak Bandir berteriak minta pertolongan dengan melambaikan tangan.

“Waktu melihat kapal itu, rasa lapar saya seperti langsung hilang,” ungkap Pak Bandir terharu.

Kesaksian Nelayan Buol

Muhammad Rusman alias Cici, Nelayan yang pertama menemukan pak Pandir sekeluarga, Warga negara Filipina yang telah 13 hari terkatung katung dilautan mengaku terkejut ketika kapalnya berpapasan dengan perahu asing dengan muatan manusia yang tampak lemas. Menurut kesaksiannya, Cici bersama rekan-rekannya sedang berkeliling mencari ikan di rakit-rakit.

“Saya curiga itu bukan perahu Indonesia. Saya pernah lama tinggal di Malaysia, jadi tahu cirinya. Saat saya dekati, saya lihat banyak orang di dalam perahu sudah sangat lemas,” ujarnya.

Pak Bandir kemudian berteriak memohon pertolongan, meminta diselamatkan dan dibawa ke mana saja asalkan mereka bisa hidup. Tanpa ragu, Cici langsung menaikkan seluruh korban ke kapalnya dan menyediakan makanan serta minuman.

Para Korban ditemukan pada Kamis (22/01/2026) sekitar pukul 08.00 WITA, dengan posisi sekitar 72 mil laut dari Dermaga Tambatan Perahu Poyapi. Perahu korban kemudian diikat dan ditarik menuju daratan. Mereka tiba di Dermaga Poyapi sekitar pukul 18.30 WITA.

Kabar penemuan satu keluarga warga negara Filipina yang terdampar di perairan Buol begitu cepat menyebar, para korban yang lemas tibda di daratan langsung di evakuasi ke rumah Saprudin, Tombea Lautan Tuna. Tanpa dikomando para warga lantas memberikan pertolongan baik dengan memberikan pakaian ,makanan hingga kebutuhan lainya.

Empati Warga

Tanpa dikomando, para ibu bergegas memasak berbagai makanan, dapur dapur warga yang sederhana mengepul. Para warga sibuk menyiapkan makanan dan pakaian layak pakai untuk 15 warga Filipina yang terdampar , bahkan sebagian menghubungi aparatur pemerintah untuk memberikan pelayanan medis kepada para korban yang sudah sangat memprihatinkan.

Setelah dilakukan pendataan awal, petugas gabungan dari berbagai unsur lantas mengevakuasi para korban ke Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD) Mokoyurli Kabupaten Buol untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut. Dua dari 17 warga negara Filipina yang terdampar tersebut tidak dirawat inap dikarenakan kondisinya yang stabil walau hanya kelelahan dan kelaparan.

Warga negara Filipina yang terdampar di Buol tampak menjalani perawatan diRSUD Buol pasca ditemukan warga nelayan setelah 13 hari terkatung katung dilautan lepas ( Dok.Ist)

Gerak.cepat Pemerintah Daerah Kabupaten Buol, Dinas Sosial, BNPB, TNI, Polri, Satpolairud, DLH, SatPolPP, serta masyarakat Kelurahan Buol.dalam menangani para korban patut diapresiasi.

Kekompakan warga bersama unsur pemerintah yang langsung merespon cepat para korban yang kelaparan dan dehidrasi usai terkatung katung dilautan selama 13 adalah cerminan sikap luhur masyarakat Indonesia khususnya suku Buol dalam panggilan kemanusiaan. Sikap welas asih dan empati yang tinggi para warga adalah bentuk etika sosial yang telah tertanam sebagai warisan budaya turun temurun di bumi Pogogul.***

Pewarta : Heru