Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

Progam Berani Lancar Pada Ruas Jalan Pape -Tomata Amboradul, Jatah Proyek Ordal?

Palu, Portalsulawesi. Id – Salah satu program unggulan pemerintahan Anwar Hafid- Reny Lamadjido yang sering dielu-elukan sukses dilaksanakan adalah program Berani Lancar, sebuah rencana program peningkatan kualitas infrastruktur jalan dalam propinsi melalui intervensi dana daerah.

Program “Berani Lancar” adalah program unggulan Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur jalan pedesaan, program ini adalah bagian dari “9 Program BERANI” (Bersama Anwar-Reny), dengan target membangun 1.000 km jalan desa untuk meningkatkan konektivitas, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat, didukung skema multiyears 2026-2028. Program ini fokus pada pengaspalan jalan rusak yang tidak terjangkau Dana Desa atau anggaran bupati, menjadi fondasi penting dari program pembangunan Sulteng.

Sayangnya, ada beberapa ruas jalan propinsi yang dikerjakan pada tahun pertama pemerintahan kabinet ” BERANI” hasilnya diragukan kualitasnya. Proyek yang baru seumur jagung selesai dikerja saat ini mulai menunjukkan tanda tanda kerusakan yang diduga kuat disebabkan pengerjaan yang asal asalan.

Salah satunya adalah proyek Rekonstruksi Jalan Ruas Pape – Tomata, pekerjaan yang menelan anggaran senilai Rp. 9.438.523.000 ini seharusnya telah rampung dikerjakan dengan masa waktu pelaksana selama 133 hari kalender.

Proyek yang dimenangkan oleh PT Baru Berkarya Sejahtera dengan nomor kontrak 622/101/SP-DIS.BMPR tertanggal 19 Agustus 2025 dengan sumber anggaran APBD 2025 saat ini mulai menunjukkan tanda tanda kerusakan, selain badan jalan yang bergelombang juga tampak kerusakan pada permukaan struktur Laston AC-WC ( Asphal Concrete -Wearing Couple) yang baru selesai dikerjakan tahun kemarin. Perusahaan pemenang beralamatkan di Jalan Slamet Riyadi Lorong 1 No 50 D, didirikan pada tanggal 26 Oktober tahun 2022 dikota Palu.

Pantauan media ini dilapangan tampak sejak awal pekerjaan ini dilaksanakan pada semester akhir ditahun 2025, pelaksana proyek ini kerap menggunakan material lokal untuk keperluan penimbunan material Lapisan Pondasi Atas ( LPA) sebelum kemudian dilakukan penghamparan Laston AC-WC. Hal ini dikuatkan oleh pengakuan warga sekitar proyek yang mengetahui persis lokasi pengambilan material timbunan sirtukil pada proyek tersebut.

” Sebagian material diambil dari sisa cuttingan tebing pada pekerjaan pelebaran jalan diruas Tonusu- Pendopo, tepatnya di sekitaran desa Bo’e ” Ungkap Sumber terpercaya media ini, Selasa ( 14/01/2026).

Masih menurut sumber, selain di desa Bo’e, kontraktor pelaksana juga mempergunakan galian material lokal yang dikeruk dari desa Saemba Walati.
” Mereka juga ambil material di desa Saemba Walati, pasir bercampur tanah disana, tetapi tetap dipakai untuk menimbun jalan sebelum diaspal ” Aku sumber yang meminta identitasnya tidak di ekspose.

Diduga akibat penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi dan metode pengerjaan yang asal asalan , saat ini. Beberapa badan jalan yang telah selesai diaspal mengalami gejala kerusakan, bahkan sebagian lapisan aspal telah mengalami Bleeding atau Flushing hingga retak kulit buaya ( Alligator Cracking).

Sepanjang ruas Tomata- Pape juga kerap ditemui keretakan pinggir aspal, lubang, pelepasan butiran ( raveling atau stripping) yang diduga kuat akibat agregat yang dipakai saat pengaspalan kotor bercampur lumpur.

Belum lagi kondisi badan jalan yang baru selesai diaspal tampak bergelombang dan kriting, hal ini diduga kuat mengindikasikan pemadatan yang kurang, kadar aspal yang tidak sesuai serta kualitas material yang buruk.

Salah satu titik kerusakan terparah pasca dilakukan pelerjaan rehabilitasi pada ruas jalan Tomata- Pape adalah jalan yang melintasi desa Lee, tampak jelas aspal telah mengelupas dan terlihat ketebalan aspal yang sangat tipis. Hal ini mengindikasikan dugaan pengurangan volume ketebalan aspal hingga prosedur pekerjaan yang menyalahi aturan.

” Aspal didepan gereja GPDI di desa Lee itu sudah terkelupas, bahkan badan jalan kalo hujan jadi tempat genangan air ” Ujar Simon (56) , warga desa Lee.

Tampak jalan mengalamai kerusakan pada Ruas Tomata Pape. Di Desa Lee, padahal baru selesai. Dikerjakan tahun 2025 ( dok. heru)

Hal yang sama dikeluhkan Tio (48), ASN yang ditemui didesa Saemba. Selaku masyarakat, dirinya menyesalkan minimnya pengawasan dari proyek yang menjadi program unggulan gubernur sulteng, Anwar Hafid yang berakhir dengan bayang bayang gagal kontruksi.

” Kalo begini modelnya kontraktor kerja, tidak lama umur jalan ini pasti rusak lagi, hanya cari keuntungan tanpa mengedepankan kualitas ” Sindirnya.
Waga juga mengeluhkan banyaknya ruas bahu jalan yang tidak dilakukan pengecoran dan hanya dibangun pondasi pembatas penahan tanah yang mana ketinggiannya melebihi tinggi bahu jalan. Sehingga potensi badan jalan menjadi kubangan air saat musim penghujan sangat mungkin terjadi.

” Ada beberapa pinggir jalan tidak dilanjutkan pengecorannya, ad yang dicor tetapi tipis sekali semennya, bahkan ada yang sudah retak dan jebol ” Ungkap Obet (44).

Kepala Dinas Bina Marga Dan Tata ruang Propinsi Sulawesi Tengah, Faidul Keteng saat dikonfirmasi media ini membenarkan bahwa pelerjaan tersebut telah selesai dan telah di PHO ( Provisional Hand Over) , hal ini menandakan bahwa proyek ini telah dinyatakan selesai 100 persen sesuai kontrak.
“Sudah pak, hubungi pak Budi saja, karena masih tanggung jawabnya Pak budi” Jawab Mantan kadis PUPR kabupaten Poso ini , Sabtu ( 18/01/2026) kepada Redaksi via Aplikasi WhastApp.

Mantan Kabid Bina Marga Dinas Bina Marga dan Tata ruang PUPR Propinsi Sulawesi Tengah, Asbudianto coba dikonfirmasi masih belum merespon, pesan singkat yang dikirim tampak belum dibaca walau telah tercengang dia. Saat ini Asbudianto menjabat selalu Pj. Kaban BPBD Propinsi Sulteng.

Berhembus isu kabarnya kontraktor pemenang proyek ini adalah orang lingkar dalam di kabinet BERANI, proyek ini dimenangkan melalui proses E-Katalog. Kuat dugaan ada peraturan pemenang dari setiap proyek infrastruktur lewat E -Katalog di dinas Bina Marga dan Tata Ruang Propinsi Sulawesi Tengah, modusnya rapi nyaris tak terbaca publik. ***
Pewarta : Heru