Donggala,Portalsulawesi.id-Sudah tiga puluh tahun warga Desa Lumbumamara, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, hidup berdampingan dengan jalan rusak. Lima kilometer ruas utama desa itu kini lebih mirip lintasan lumpur ketimbang jalur transportasi. Setiap musim hujan, warga harus bertaruh keselamatan demi bisa melewatinya. “Dari tahun 1995 jalan ini begini terus. Banyak orang jatuh,” kata Malik, tokoh masyarakat Lumbumamara, Minggu, 5 Oktober 2025. Ia mengaku sudah berkali-kali menyampaikan keluhan kepada pemerintah, tapi tak ada tindak lanjut.
Kerusakan jalan yang dibiarkan bertahun-tahun itu memukul ekonomi warga. Hasil pertanian seperti kakao dan kelapa sulit keluar karena kendaraan enggan melintas. “Kalau pun ada sopir yang mau ambil hasil panen, ongkosnya dua kali lipat. Kadang malah ditolak karena takut mobilnya rusak,” ujar Malik. Di musim hujan, kata dia, akses antar-dusun terputus total, membuat pasokan kebutuhan pokok tersendat dan harga barang melambung.
Bagi warga Lumbumamara, jalan rusak bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan juga lambang dari janji politik yang tak pernah ditepati. Hampir setiap musim pemilu, mulai dari pileg hingga pilgub, jalan itu selalu jadi bahan kampanye. “Setiap musim politik selalu dijanji akan diperbaiki. Tapi setelah pemilu, jalan tetap rusak. Desa sebelah sudah diaspal, kami masih menunggu. Rasanya seperti dianaktirikan,” kata Malik, suaranya meninggi.
Kepala Desa Lumbumamara, Fadly, membenarkan keluhan warganya. Sejak menjabat pada 2023, ia sudah tiga kali mengirim proposal perbaikan jalan ke pemerintah kabupaten dan provinsi. Namun hingga kini belum ada kepastian. “Tahun ini katanya dijadwalkan, tapi belum ada tanda-tanda pekerjaan di lapangan,” ujarnya. Padahal, jalan tersebut merupakan satu-satunya akses warga menuju Kota Donggala dan Palu. “Kalau dibiarkan, lama-lama warga bisa berhenti bertani karena biaya distribusi hasil panen terlalu besar.”
Kondisi Lumbumamara menjadi ironi di tengah gencarnya pemerintah daerah berbicara soal pemerataan pembangunan. Warga di wilayah lain menikmati jalan mulus, sementara desa ini masih bergelut dengan lumpur dan lubang. Di beberapa titik, warga berinisiatif menimbun jalan dengan batu dan tanah seadanya, tapi tak bertahan lama. “Kalau hujan datang, semua usaha kami sia-sia,” ucap Malik. Fadly berharap, pemerintah kabupaten maupun provinsi segera menindaklanjuti aspirasi warganya. “Jangan hanya datang menjanjikan saat kampanye. Jalan ini urat nadi ekonomi warga,” tegasnya.(***)
Pewarta:Basrudin








