Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi Gumbasa II Karya PT Wijaya Karya Kso PT Passokorang  Berpotensi Gagal Konstruksi

Tampak dinding saluran berupa beton pracetak jebol usai digerus banjir dari atas saluran yang menyebabkan jebolnya lining di desa Sidondo I kabupaten Sigi (foto:Heru)

Palu,Portalsulawesi.Id- Upaya pemulihan jaringan irigasi Gumbasa yang mengaliri ribuan hektar tanah sawah sepanjang kecamatan Tanambulava Kabupaten Sigi hingga Kelurahan Petobo Kota Palu hampir rampung, beberapa Segmen pelaksanaan proyek ratusan milyar ini telah memasuki masa pemeliharaan setelah hampir tiga tahun dikerjakan.

Salah satu proyek rehabilitasi irigasi yang telah dinyatakan selesai oleh pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III adalah Proyek Rehabilitasi jaringan irigasi Gumbasa paket II , Paket pekerjaan perbaikan jaringan irigasi ini dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk  dengan menggandeng PT Passokorang selaku Kso ( Kerja sama operasional) dalam menyelesaikan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Sayangnya, Proyek yang pendanaannya bersumber dari dana Loan Asian Development Bank (ADB) senilai Rp 334,31 miliar ini dikerjakan dengan masa pelaksanaan sejak 19 Desember 2021 hingga 31 maret 2023 (455 hari kerja) terkesan tidak memperhatikan mutu pekerjaan serta diduga kuat menyimpang dari metode kerja yang disyaratkan dalam kontrak.

Proyek yang telah di PHO (Provisional Hand Over-PHO) pada akhir desember 2023 silam oleh BWSS III selaku perpanjangan tangan Direktorat Jenderal (Ditjend) Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ternyata ditemukan sejumlah hasil pekerjaan yang diduga tidak sesuai spesifikasi.

Dari pantauan media ini, sejumlah pekerjaan pemasangan dinding kanal (Lining) lewat metode beton pracetak (precast) tampak telah retak struktur dan tidak simetris.  Bahkan, terlihat jelas sejumlah dinding  lining pracetak diduga sengaja dipasang dengan kondisi patah .

Retak Struktur dibeberapa pasangan Precast pada dinding saluran di proyek rehabilitasi jaringan Irigasi Gumbasa II yang dikerjakan PT Wijaya Karya Kso PT Passokorang Tbk (foto:Heru)

Akibatnya, saat ujicoba pengisian air di jaringan irigasi Gumbasa pada Segmen II ini tampak rembesan air disela sela lining. Parahnya, kondisi beton pracetak yang retak dan tidak simetris yang diduga sengaja dipasang oleh pelaksana pekerjaan tampak dibiarkan oleh pihak PT Wijaya Karya (Perseroan)Tbk selaku pemenang tender .

Hasil pengamatan lapangan media ini, kondisi dinding lining yang patah  patah dan telah retak struktur terjadi dibeberapa lokasi pekerjaan di sisi kiri kanan bangunan irigasi  . Akibatnya, tampak jelas pasangan precast yang “jomplang” dan bergeser dari posisi yang seharusnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan ditemukannya pekerjaan penutup atas lining tidak saling mengunci yang menyebabkan rembesan air pada saluran irigasi tersebut menyebabkan lubang dibelakang lining yang dilapisi oleh Geotekstil, lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, berpori yang digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah .

Retakan pada dinding lining berpotensi merembesnya air yang mangalir dalam kanal irigasi Gumbasa II , hal ini menyebabkan ruang kosong dibawah saluran irigasi ( foto:Heru)

Bahkan, terjadi kerusakan parah sepanjang  50 meter pada pasangan precast yang mengakibatkan rusaknya dinding lining pasca terjadi hujan lebat di sekitar lokasi kerja pada medio bulan Februari 2024 silam. Kondisi tersebut hingga saat ini terkesan dibiarkan oleh pelaksana proyek dan BWSS III selaku perwakilan pemerintah.

Proyek Rehabilitasi dan rekontruksi jaringan irigasi D.I Gumbasa tahap II sepanjang 24 kilometer yang berlokasi diwilayah Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah itu, ditargetkan melayani sekitar 7.100 ha area pertanian potensial.

Pekerjaan yang dikerjakan perusahaan plat merah ini mencakup pekerjaan saluran primer sepanjang 9.933 meter, saluran sekunder 11.110 meter dan saluran tersier 33.890 meter ruas BGKn 7 – 24 dengan luas areal yang bakal teraliri seluas  1.612 hektar.

Dengan kondisi tersebut diatas, patut diduga terjadi “kongkalikong” antara pihak penyedia pekerjaan yakni BWSS III, pihak pelaksana yaitu PT Wijaya Karya (Perseroan) Kso.PT Pasokorang serta Konsultan pengawas proyek dan Panitia PHO.

Pasangan beton pracetak di dinding saluran kalan irigasi Gumbasa II yang diduga dipasang secara serampangan tampak terangkat dan tidak saling mengunci, hal ini berpotensi menyebabkan air merembes dan merusak konstruksi pasangan lining pada proyek gumbasa II ( foto:Heru)

Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi III, Dedy Yudha saat dihubungi mengarahkan portalsulawesi untuk menghubungi salah seorang pejabatnya yang menjabat selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Gumbasa II.

“ ke P Oni saja pa klarifikasinya” tulis Kabalai singkat. Senin (04/03/2024)

Padahal sebelumnya, Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Gumbasa dari BWS Sulawesi III, Dwi Cahyo Romadhony Aristianto ST,MT  saat dikonfirmasi membernarkan kondisi tersebut. Menurutnya, kondisi yang terjadi seperti temuan media ini masih masuk tahapan pemeliharaan setelah selesai di PHO.

“ iya kemaren dites pengaliran selama dua bulan,biasa kalo ada yang rusak kami minta untuk diperbaiki karena masa pemeliharaan masih tanggung jawab kontraktor “ jelasnya Via aplikasi WhastApp, Sabtu  ( 02/03/2024).

Redaksi media ini mengirimkan sejumlah dokumentasi temuan kepadanya, selaku PPK dirinya berupaya mengelak. “ waktu PHO aman tidak ada kerusakan,setelah dipakai 2 bulan baru muncul retak sehingga masih masa garansi dari kontraktor ,kayaknya orang beli rumah pak kalo setelah dipakai ada bocor masih tanggung jawab developer sebelum FHO “ urainya berilustrasi.

Selaku Kasatker , pria yang akrab disapa ONI ini bersikukuh jika apa yang ditemukan media ini bukanlah sebuah persoalan serius . “ ada konsultan supervise pak yang tiap hari tugasnya monitor lapangan “ ujarnya.

Melalui Kasatker Gumbasa II ini, redaksi mendapatkan nomor kontak pihak pelaksana yakni ,Abdullah Koir Muhamadan. Sayangnya ,perwakilan PT Wijaya Karya (perseroan) ini tidak banyak memberikan keterangan dengan alasan telah selesai masa kontrak kerja di Sulteng dan telah pulang ke Jakarta.

“pak nanti klo bs ktmu saja bsk atau lusa dengan anggota kami yg msh ada dipalu,karena saya skg sudah di jkt pak” tulis ,Khoir, sapaan akrab perwakilan PT Wijaya Karya melalui Chating WhastApp ke redaksi.

Pertemuan dengan perwakilan PT Wijaya Karya (Perseroan) yang ditunjuk Abdullah Khoir  Muhammadan selaku Kepala Proyek yakni Fahmi , tidak menghasilkan klarifikasi apapun, pasalnya Fahmi mengaku tidak memahami secara tehnis apa yang hendak dikonfirmasi media ini.

“maaf mas,secara tehnis say ndak kuasai materi ini, saya Cuma orang PT Wijaya Karya yang mengurus administrasi keuangan perusahaan, saya dipalu ini Cuma lagi mengurus pajak perusahaan “ ungkapnya saat bertemu demgan media ini.

Bahkan, Perwakilan PT Wijaya Karya ini berupaya menyodorkan sebuah Amplop coklat untuk tujuan agar tidak diberitakan .” ini titipan dari pimpinan, mohon diterima dan tidak usah diberitakan “ ujarnya berbisik,***

Pewarta /Editor : Heru

Disclamer : Berita ini telah mengalami penyuntingan dan di edit kembali karena beberapa kesalahan penulisan ,diantaranya sebelumnya ditulis PT Waskita Karya ,Padahal yang benar adalah PT Wijaya Karya, sebelumnya ditulis PPK (pejabat Pembuat Komitmen),seharusnya Kepala Satuan Kerja (Kasatker). atas kesalahan penulisan tersebut,Redaksi Portalsulawesi.Id memohon maaf sebesar besarnya kepada pihak terkait diatas.****