Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

Amblasnya Jembatan Buluri Butuh Penanganan Maksimal

Penanganan Jembatan Buluri yang amblas oleh BPJN Sulteng dengan merakit jembatan darurat (Foto :Heru)

Palu,Portalsulawesi.Id- Amblasnya Jembatan Buluri yang merupakan jalur utama dan satu satunya yang menghubungkan Kota Palu dan Kota Donggala hingga ke Propinsi Sulawesi Barat pada Jumat (07/04/2023) sore membuat ratusan pengguna jalan tersebut terjebak kemacetan, jembatan yang dibangun di era kepemimpinan Soeharto tersebut telah beberapa kali mengalami kerusakan.

Kerusakan kali ini terparah dibanding sebelumnya, badan jalan diatas jembatan amblas dikarenakan tiang jembatan berupa susunan batu mengalami penurunan dan pergeseran dari posisi semula akibat dari groundsill jembatan pada sisi hilir sungai tergerus arus banjir yang debit airnya meningkat usai seharian diguyur hujan.

Keadaan diperparah dengan gerusan air yang membawa material bebatuan yang diduga dari sendimentasi material pada beberapa lokasi IUP galian C yang berada disekitar  hulu sungai Nggo Kelurahan Buluri kecamatan Ulujadi Kota Palu tersebut.

Hal ini juga disampaikan Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah, Arief Syarief Hidayat  disela sela kunjungannya dijembatan yang amblas tersebut. Menurutnya salah satu factor amblasnya jembatan tersebut selain usia jembatan yang cukup tua juga adanya kesalahan pemasangan Groundsill pada sisi hilir jembatan yang berakibat terjadinya gerusan yang membentuk terjunan yang mengikis pondasi jembatan.

“Jembatan ini usianya sudah 51 tahun, sebelumnya kita sudah melakukan survey kondisi, masalahnya sebenarnya pemasangan groundsill, harusnya pasangan groundsill ini di sebelah sana (sisi hilir sungai, red) fungsinya supaya arusnya landai, malah ini seperti terjunan sehingga terkikis, itu faktornya,” ungkapnya, seperti dikutip dari mediasulawesi.id.

Sementara itu, TNI-Polri bersama BPBD Kota Palu dan Propinsi Sulawesi tengah dibantu masyarakat sekitar lokasi amblasnya jembatan tampak saling membantu pengguna jalan yang melintasi jalan alternatif di badan sungai dengan melakukan pengaturan secara manual baik kendaraan roda dua,roda empat bahkan kendaraan berbadan besar.

Tidak sedikit kendaraan terjebak dibadan sungai yang masih digenangi arus banjir, setidaknya ada dua alat berat disiagakan untuk mengantisipasi terjebaknya kendaraan berat yang melintasi jalur alternatif tersebut.

Pihak BPJN Wilayah Sulawesi Tengah sendiri terus berupaya merampungkan pembangunan jembatan darurat berupa jembatan Jembatan Bailey dengan bentangan 39 meter untuk yang berada diatas jembatan ataupun yang melintasi di sungai untuk kendaraan yang bertonase besar dengan bentang 33 meter.

Pantauan media ini dilapangan, kondisi jembatan Buluri yang dibangun pada masa pemerintahan presiden Soeharto pertama (1969) dan diresmikan pada tahun 1972 tersebut sudah uzur, jembatan ini merupakan Jembatan Pasangan Batu Kali dan Bata.

Kondisi Jembatan Buluri dari Bawah (Foto:Heru)

Struktur atas dan bawah jembatan Buluri dibuat dari pasangan batu kali , Jembatan ini merupakan jenis jembatan dengan sistem gravitasi yang kekuatannya mengandalkan berat struktur.

Saat ini, ada dua Pilar, yang posisinya ada di tengah jembatan untuk menyebarkan beban ke seluruh Pondasi jembatan tampak retak parah dan mengalami penurunan. Demikian pula Pondasi dibawah pilar jembatan yang meneruskan beban pada jembatan ke dasar tanah juga tampak tergerus dikarenakan groundsill pada sisi hilir jembatan telah tergerus air sungai yang membentuk terjunan.

Haji Husni (58) Salah seorang pengguna jalan yang ditemui redaksi portalsulawesi di jalur penyebrangan alternatif di bantaran sungai Nggo Buluri berharap agar pemerintah secepatnya memberikan solusi jalan lintasan yang aman bagi pengguna jalan,mengingat intensitas hujan di Kota Palu yang tidak menentu yang bisa memicu banjir susulan dilokasi tersebut.

“kami berharap segera dibangun jalan alternatif yang aman bagi pengguna jalan, kalo kita paksakan lewat disungai terus seperti ini bisa membahayakan, belum kendaraan mogok disungai, ta tanam bannya, terus tiba tiba banjir besar…bisa bahaya kita” ungkap pria yang berprofesi sebagai pedagang tersebut.***

Pewarta : Adityawarman

Editor      : Heru