Palu,Portalsulawesi.Id– Sejak selesai dikerjakan setahun silam , proyek Jalan Nasional yang dibiayai dari pos APBN dengan metode Multiyears kerap menuai kritik. Proyek yang diberi label Paket Rehabilitasi dan rekonstruksi ruas jalan Tompe-Dalam Kota Palu-Surumana dikerjakan oleh PT Nindya Karya dengan pagu mencapai Rp.165.640.728.000, proyek tersebut diharapkan dapat membantu pemulihan akses distribusi ekonomi pasca bencana 28 September 2018 silam.
Proyek yang sempat molor penyelesainya hingga akhir april 2021 tersebut sejak dinyatakan selesai tampak telah mengalami kerusakan disana sini, mulai dari kerusakan badan jalan, paving trotoar hingga buntunya saluran air yang dalam pelaksanaanya dahulu dibuatkan U-Ditch sebagai saluran pengurai air dibahu jalan.
Kini, proyek milyaran rupiah tersebut kerap menyebabkan pengguna jalan mengeluh. Sepanjang jalan Diponegoro yang membentang pada ruas Jalan nasional Wilayah Pelaksana Jalan Nasional (PJN) II terlihat jelas aspal dibahu jalan terkelupas dan menggulung (bleeding).
Secara teori, dalam kondisi tertentu, jalan bisa rusak karena beberapa faktor. Ada yang berupa rusak karena faktor usia (aging), ada juga yang dikarenakan faktor tidak sempurnanya pengerjaan pengaspalan jalan yang dilakukan oleh kontraktor pengaspalan jalan.
Salah satu kerusakan yang disebabkan oleh tidak sempurnanya pengerjaan pengaspalan jalan adalah bleeding. Bleeding atau kegemukan aspal adalah deformasi permukaan. Fenomena ini disebabkan oleh terlalu banyaknya campuran aspal pada saat pengaspalan jalan. Bleeding dapat dilihat ketika aspal di jalan terlihat berlebihan dan mengumpul di satu tempat.
Biasanya, bleeding terlihat pada jejak ban, lalu membuat permukaan aspal jalan menjadi lunak. Pada beberapa kasus, bleeding terlihat mengkilat, basah, atau menempel di ban kendaraan yang melintas.
Tampak jelas bahwa Kerusakan bahu jalan diruas yang masih masuk masa pemeliharaan ini juga kerap menjadi langganan banjir ini disebabkan faktor pencampuran material dan aspal yang tidak merata , akibatnya saat curah hujan yang tinggi sering menyebabkan kawasan padat pengguna jalan tersebut terhambat.
Seperti yang terjadi pada Sabtu ( 12/03/2022), akibat semalam diguyur hujan. Ruas jalan Diponegoro sepanjang lebih dua kilometer terendam banjir dengan ketinggian hingga 25-30 Cm, sebagian besar saluran air yang dibangun PT Nindya Karya tidak mampu menampung debit air yang terus meningkat.
Akibatnya, jalan Utama kota Palu ini macet . luapan air yang membawa material sampah dan lumpur tampak menggenangi ruas jalan yang belum setahun selesai dikerja tersebut. Ruas jalan tersebut Nampak seperti kolam ikan yang membentang dalam kota Palu , keadaan tersebut diperparah dengan nyaris tidak adanya penanganan dari pelaksana proyek yang nota benenya masih masuk tanggungjawabnya.

Manager pelaksana PT Nindya Karya, Johanes saat dikonfirmasi Via WhastApp menyatakan akan mengutus tim lapangannya untuk mengecek penyebab luapan air ke bahu jalan tersebut.
“Tks Infonya,nanti tim sy d palu cek lokasi, cek dulu penyebabnya, kemungkinan tumpukan sampah “ tulis Johanes dalam pesan singkatnya ke redaksi Portalsulawesi, sabtu (12/03/2022) .
Sementara itu,Rismono ST selaku satker PJN Wilayah II belum membalas konfirmasi media ini , sedangkan Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah , Mohammad Syukur yang dihubungi via WhastApp juga tidak merespon, tampak centang dua hijau di nomor kontaknya yang menandakan pesan dari redaksi telah dibaca olehnya tetapi tidak mendapat tanggapan.
Salah seorang pengguna jalan kepada Portalsulawesi meminta pemerintah pusat khususnya kementrian PUPR untuk mengevaluasi kinerja Kontraktor pelaksana paket pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi ruas jalan Tompe-Dalam Kota Palu-Surumana , karena patut diduga bekerja asal asalan.
“kayaknya penegak hukum boleh turun tangan melihat hasil kerja PT Nindya Karya ini, masak kerusakannya cukup banyak padahal baru setahun selesai dikerjakan “ Ujar Fikri (48), sopir truck yang antri BBM di SPBU Diponegoro.
“ harusnya kontraktor perlu buat pelampung khusus buat pengguna jalan supaya tidak tenggelam kala banjir melanda di ruas itu “ timpal budy, kawan Fikri sesama sopir bercanda.
kejadian serupa juga menimpa ruas jalan Imam Bonjol tepatnya dikompleks pertokoan milik Pemkab Donggala di Kota Palu , luapan air telah memasuki beberapa toko yang kondisi lantainya rendah . endapan lumpur dan sampah tampak menghiasi pelataran toko.
Kuat dugaan ,saluran air yang dipasangi U-Ditch telah mengalami pendangkalan akibat sendimentasi pasir dan tanah yang terbawa arus banjir, ditambah sampah rumah tangga yang sengaja dibuang dalam saluran di bahu jalan tersebut.
Hingga berita ini tayang,belum ada upaya dari pihak pelaksana proyek untuk melakukan langkah langkah antisipatif untuk menanggulangi banjir diruas jalan Nasional tersebut.***
Pewarta : Heru








