Palu,Portalsulawesi.Id- Memasuki Awal tahun 2022, Kondisi jalan nasional Ruas Surumana-Tompe mulai mengalami lubang disana sini ,padahal tahun 2019- April 2021 ,ruas tersebut mendapat kucuran anggaran yang fantastis.
Proyek tersebut dikerjakan oleh salah satu perusahaan BUMN yakni PT Nindya Karya , anggaran yang digelontorkan dari sumber dana APBN senilai Rp.165.640.728.000 dengan nama paket rehabilitasi dan Rekonstruksi Ruas Tompe-Dalam Kota Palu-Surumana.
Masa pemeliharaan jalur Surumana-Tompe dituding setengah hati. Kendati masa pemeliharaan itu menjadi tanggung jawab penyedia jasa, ternyata aspal di jalur itu tetap saja terkelupas. Bahkan kondisi itu sudah terjadi selama sebulan belakang.
Sebagai contoh, ruas jalan Malonda hingga Jalan Diponegoro Kota Palu tampak tetap laksana kolam saat hujan melanda ,dibeberapa sudut jalan tampak bekas tempelan aspal dijalan yang mengalami kerusakan pasca selesai diperbaiki.

Bahkan, dibeberapa ujung “kapsul” trotoar pembatas jalur dua yang merupakan bangunan pelengkap jalan tampak telah hancur berantakan,parahnya material beton troroar tampak berserakan di ujung kapsul hingga membahayakan pengguna jalan.
Diduga,pekerjaan Struktur perkerasan jalan tidak maksimal sehingga dibeberapa badan jalan terlihat aspalnya telah rusak akibat dilintasi kendaraan.
Memasuki masa pemeliharaan, pelaksana proyek tersebut diduga dikerjakan setengah hati . Sudut jalan yang ditambal sulam pun tidak berlangsung lama,tidak seminggu umurnya area yang dilakukan pemeliharaan kembali mengalami shoving atau geser diduga diakibatkan oleh kandungan aspal yang terlalu tinggi.
Bahkan ,disepanjang jalan dari Ruas Surumana hingga Dalam Kota Palu tidak sedikit permukaan jalan yang dikerjakan oleh perusahaan Plat Merah tersebut mengalami Retak kelelahan/retak buaya (fatigue/alligator), Retak reflektif, dimana lapisan atas keretakan muncul kembali di permukaan hingga Bleeding.
Toufan,(48) salah satu warga Kota palu yang bekerja di Donggala mengeluhkan kondisi jalan yang telah dilakukan pekerjaan tambal sulam sebagai bentuk pemeliharaan jalan , menurutnya pekerjaan tambal sulam yang dilakukan pihak pelaksana selaku Kontraktor pemegang Kontrak tidak maksimal dikarenakan dikerjakan terkesan asal-asalan.
“pekerjaan tambal sulam itu hanya sekedarnya saja,coba lihat hasilnya,belum seminggu ditambal sudah menggelembung kembali aspalnya,membahayakan kita pengguna jalan “ keluhnya.
Belum lagi ,pejalan kaki yang menjadi pengguna Trotoar sepanjang jalan Diponegoro dihantui bahaya tercebur kedalam selokan dibawah trotoar yang penutup salurannya (menhoel) banyak dicuri orang .
Demikian pula pasangan paving bloknya sudah banyak yang rusak dan hancur berantakan , tentu saja hal ini membuat pengguna jalan semakin merasa tidak nyaman.
Hingga berita ini ditayangkan, upaya redaksi untuk mengkonfirmasi pihak PPK dan Satker PJN Wilayah II pada Balai Pelaksana jalan nasional Wilayah XIV Sulawesi Tengah maupun pelaksana proyek tersebut belum mendapatkan tanggapan .***
Pewarta : Heru








