Parigi, Portalsulawesi.Id- Untuk menuntaskan upaya pemberantasan terorisme di Sulawesi Tengah khususnya perburuan empat orang sisa Teroris Poso yang diduga masih berada dihutan belantara disekitar pegunungan Poso-Parigi, Satuan Tugas Operasi Madago Raya melaksanakan Rapat Analisa dan Evaluasi (Anev) Operasi Madago Raya Tahap III dirangkai dengan sosialisasi perpanjangan Operasi madago Raya Tahap IV .
Kegiatan Anev tersebut dipimpin langsung Penanggung Jawab Kebijakan Operasi (PJKO) ,Kapolda Sulteng, Irjen Rudi Sufahriadi didampingi Wakil PJKO, Komandan Korem 132 Tadulako ,Brigjen Farid Makruf. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Pesat Gatra Polres Parigi Moutong ,Senin (04/10/2021).
Dalam penyampaiannya dihadapan para peserta rapat Anev Operasi Madago Raya , Kapolda Sulteng Irjen Rudy Sufahriadi menekankan perlunya memaksimalkan dua metode pendekatan Operasi yakni metode pendekatan lembut ( Soft Approach) maupun pendekatan tegas (Hard Approach).
Rudy Sufahriadi juga memberikan apresiasi kepada semua unsur yang terlibat dalam pelaksanaan Operasi madago Raya tahap III yang telah menyelesaikan rencana operasi dengan maksimal sehingga target utama Operasi dapat dilumpuhkan .
Operasi Madago Raya sejak 1 Oktober hingga 31 Desember 2021 telah memasuki Operasi Tahap empat (IV), diharapkan opersi kali ini akan menuntaskan sisa 4 DPO Teroris Poso yang masih enggan menyerahkan diri.
Hal ini sesuai dengan isi siaran pers yang diterima media ini melalui Satgas Humas Operasi madago Raya.
“ Kapolda Sulteng memberikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh Satgas atas pelaksanaan operasi Madagoraya tahap III yang berlangsung sesuai rencana dan berhasil menangkap apa yang menjadi target operasi “ tulis AKBP Bronto Budiono selaku Wakasatgas Humas Ops Madagoraya dalam rilisnya.

Bronto juga menegaskan bahwa PJKO menekankan agar Operasi Madagoraya tahap IV dilaksanakan melalui pendekatan secara soft approach dan hard approach,
Soft aprroach merupakan pendekatan yang lebih menitik beratkan pada pengendalian humanis yang lebih persuasif. Metode ini dilancarkan untuk menyebarkan deradikalisasi kepada seluruh elemen masyarakat, napiter, ex napiter dan keluarga teroris,
Sedangkan hard approach (perang melawan terorisme). Perang melawan terorisme tersebut dilakukan apabila himbauan-himbauan untuk menyerahkan diri tidak diindahkan serta memenuhi tuntutan untuk bertindak secara cepat dan menekankan pada hukuman bagi para pelaku apabila tertangkap, jelas Wakasatgas Humas.
Oleh karenanya diharapkan kepada 4 orang sisa DPO teroris Poso tersebut sebaiknya untuk segera menyerahkan diri dan akan diberikan jaminan keamanan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya di masa lalu dan menghadapi proses hukum, tutup AKBP Bronto.***
Penulis : Heru
Sumber : Humas Operasi Madago Raya








