Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

Praja Amrun : Ikhlas Membantu Meski Sudah Seperti Lemak Kaledo Lengket Ditangan

Pada Hari kelima pasca bencana, Praja Amrun, Anggota Sat Pol PP dari Kabupaten Luwu Timur, seorang diri saat mengevakuasi bagian-bagian tubuh mayat saudara kita yang tertimbun lumpur di lokasi bencana di Balaroa.(Foto: Ist)
PALU portalsulawesi.id – Bencana di Palu, Sigi dan Donggala akan selalu menjadi kenangan. Dalam menjalankan misi kemanusiaan, dia sudah tidak lagi merasa jijik untuk mencium bau yang tak sedap itu. Malah yang kata orang bau yang busuk menyengat dari onggokan mayat saudara-saudara kita yang tertimbun lumpur pasca bencana itu, kini sudah menyatu dengan dirinya. “Aku tidak lagi merasa jijik dengan bau busuk itu karena bau itu sudah menyatu dengan aku .Hal itu justru membuat aku sadar bahwa kita ini manusia hanya bagian kecil dari ciptaan Allah karena itu kita diberi kesempatan untuk saling membantu, saling menolong hanya untuk mendapatkan RidhoNya,” kata Praja Amrun, Anggota Sat Pol PP dari Kabupaten Luwu Timur, usai mengevakuasi beberapa mayat di daerah Balaroa, pada Rabu 3 Oktober 2018.
Praja Amrun, yang ditemui di Posko Tagana Luwu Timur, Minggu (7/10/2018), mengatakan sangat sedih melihat kondisi saudara-saudaranya yang terkena bencana di Palu, Sigi dan Donggala. Baginya,bencana ini sangat luar biasa. Namun sebagai manusia kita hanya bisa berdoa dan tetap bertawakkal dalam menerima segala cobaan yang diberikan atas kehendakNya.
Karena itu, kata Praja Amrun, untuk menolong saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana ini, Sudah sepantasnya kita bekerja ikhlas dalam menolong sesama. “Saya saja yang bukan masyarakat Sulteng, saat mengevakuasi mayat, saya tidak lagi memikirkan bau busuk dari mayat-mayat saudara- saudara kita dan saya mengeluarkannya dari timbunan lumpur dan bangunan. Karena dipikiranku saat itu, mereka adalah saudara kita yang pantas untuk kita bantu,” kata Praja Amrun, disela makan siang di Posko Tagana sembari mengatakan kalau dirinya tinggal mensiasati dengan menggunakan sendok ketika makan sebab dia juga sempat khawatir karena pada saat mengevakuasi beberapa orang mayat di Balaroa, Sarung tangannya sempat sobek sehingga lemak-lemak dari tubuh mayat itu sebagian sudah masuk ke sela-sela kukunya.
“Dan alhamdulillah ka, walaupun begitu saya tetap tidak jijik karena saya sadari bahwa saya ini juga manusia biasa, yang tentunya suatu saat juga pasti membutuhkan pertolongan dari orang lain. Karena umur kita hanya Allah yang tahu,” tuturnya.
Melihat kegigihan dan semangat Praja Amrun yang seorang diri saat mengevakuasi beberapa orang mayat di Balaroa, sungguh merupakan hal yang sangat luar biasa. Karena kala itu, tak seorang pun relawan yang datang membantunya. Sebagian masyarakat lainnya hanya menyaksikan dari kejauhan saja. Tapi hal itu justru membuatnya tetap semangat dan merasa yakin akan kemampuannya untuk bisa mengeluarkan tubuh saudara-saudara kita yang sudah lima hari tertimbun dalam lumpur diantara reruntuhan puing-puing bangunan rumah warga.
“Kakak mau tahu, itu kalau saya angkat bagian badannya, sudah lembek sekali. Dan begitu saya angkat, bagian kakinya terlepas. Lalu saya angkat lagi bagian kakinya dan anggota tubuh lainnya secara satu persatu. Dan itu ka, sudah seperti lemaknya kaledo melengket-lengket di tangan dan masuk disela kuku. Tapi ka, sudah tidak ada mi rasa jijikku karena saya memang betul-betul ikhlas membantu,” kata Praja Amrun dengan dialek khas orang Luwu Timur.
Semoga saja keikhlasan dan sumbangsih tenaga yang diberikan oleh Praja Amrun dalam menolong saudara-saudara kita di lokasi bencana, bernilai ibadah baginya. Dan apa yang dilakukan oleh Praja Amrun, patut menjadi contoh bagi yang lainnya.
REDAKTUR :Nila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *