Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

​Pemanfaatan Hutan di Seputaran kawasan TNLL

Arifin, petani gula aren di desa Tuva, Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. (fhoto:nila)

Sigi.Portalsulawesi. com – Keberadaan hutan di Taman Nasional Lore  Lindu (TNLL)  sampai saat ini menjadi penopang hidup bagi masyarakat desa yang bermukim diseputaran kawasan TNLL. Disamping memanfaatkan beragam potensi alam yang ada di hutan itu,  masyarakat sekitar kawasan itu terus berupaya untuk selalu menjaga kelestarian hutan di kawasan TNLL.  Sebagaimana yang dilakoni oleh Arifin, selain berkebun di sekitar kawasan tersebut,  Arifin juga adalah salah seorang dari sekian banyaknya petani gula aren yang ada di desa Tuva,  Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Dengan memanfaatkan keberadaan sumber daya alam yang ada disekitar hutan Taman Nasional Lore Lindu,  seperti pohon enau yang banyak tumbuh diperkebunan masyarakat yang ada disekitar hutan TNLL.  Dan keberadaan pohon enau itu dimanfaatkan oleh masyarakat  desa khususnya masyarakat di desa Tuva dalam menopang ekonomi keluarga.  Dalam kesehariannya,  membuat gula aren sudah menjadi mata pencaharian tetap bagi Arifin.  Karena selain proses pembuatannya yang sangat mudah, hasilnyapun sangat lumayan menjanjikan.  Bahkan dalam sehari dia bisa menghasilkan sekitar 20-25 kilogram gula aren.

Arifin, petani gula aren di desa Tuva, Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. (fhoto:nila)

Dalam percakapan yang cukup singkat itu,  kami para jurnalis bersama tim pendamping dari Balai Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) yang disponsori oleh Forest Programme III — kerjasama pemerintah Jerman dan Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kami mengunjungi langsung ke tempat pembuatan gula aren milik Arifin. Disana kami melihat seperti apa proses pembuatan gula aren itu. Menurut Arifin,  proses perbuatannya cukup memakan waktu lama,  bisa sampai 12 jam baru bisa menjadi gula aren.   Arifin,  yang sudah kurang lebih 6 tahun menjadi petani gula aren,  mengatakan proses pembuatan gula aren ini cukup mudah hanya memang butuh waktu sampai berjam-jam untuk proses memasaknya.  Demikian juga halnya untuk pengambilan air nira,  butuh waktu sehari baru bisa memperoleh air nira yang sebelumnya sudah ditampung dengan menggunakan jerigen yang digantung diatas pohon nira atau pohon enau.

“jadi memang untuk proses pengambilan air nira dan proses memasak air nira tersebut agar bisa menjadi gula aren, butuh waktu sampai seharian, “ tutur Arifin.

Untuk proses pembuatan gula aren,  kisah Arifin, awalnya dia mengumpulkan air nira dari beberapa pohon nira yang sudah disadap sejak pagi sampai sore.  Kemudian air nira tersebut diambil dan dibawa pulang lalu dilanjutkan untuk proses pemasakan.  Air nira tadi dituangkan kedalam kuali besar yang sudah ada diatasi tungku api. Kemudian dengan api sedang,  air nira itupun dimasak diatas tungku tanah dengan menggunakan kayu bakar yang juga diperoleh dari kayu-kayu kering yang banyak dijumpai diseputaran hutan taman nasional lore lindu. Sambil sesekali diaduk hingga mengental menjadi gula aren. “kira2 proses memasaknya bisa sampai 12 jam atau seharianlah, “ kata Arifin.

Setelah diperkirakan sudah menjadi gula aren,  lalu diangkat dan dicetak di tempurung kelapa yang sudah disiapkan sebagai alat cetak gula aren hingga membentuk setengah lingkaran. Kata Arifin, dalam satu cetakan itu beratnya bisa sampai 1,5 – 2 kg. Gula yang sudah dalam cetakan kemudian didinginkan dulu beberapa jam lalu dikeluarkan dari cetakannya untuk kemudian siap dijual. “untuk proses pemasaran, kami memang ada pembelinya,  yang datang ke tempat pembuatan gula aren di pondokan ini,” tutur Arifin seraya menyebutkan bahwa harga jual gula aren hanya dibandrol Rp15 ribu per kg.

Jadi bisa diketahui bahwa pendapatan Arifin dalam sehari bisa sampai Rp300.000-Rp375.000. Sangat lumayanlah penghasilannya dalam sebulan, yang dia peroleh dengan memanfaatkan keberadaan hutan di Taman Nasional Lore Lindu. Harapannya semoga saja pengembangan usaha pembuatan gula aren yang dikelolanya ini bisa berkelanjutan hingga ke anak cucu dengan tetap menjaga kelestarian hutan di TNLL.

REDAKTUR : T. NILAWATI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *