Menyajikan Fakta Menyuarakan Nurani

​Ekonomi Sulteng di 2017 Tumbuh Melambat

Kepala BPS Sulteng, Faizal Anwar didampingi Kabid Kepala Bidang Neraca wilayah dan statistik, Sukadana Sufii, saat merilis data pertumbuhan ekonomi Sulteng di 2017 yang berlangsung Senin kemarin, bertempat di Aula kantor BPS Sulteng. (foto:nila)

PALU Portalsulawesi. com– Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah tahun 2017 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp134,24 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai  Rp97,55 triliun.

Dari keterangan Kepala BPS Sulteng,  Ir.Faizal Anwar, MT,  Secara c-to-c,  Ekonomi Sulteng tahun 2017 tumbuh sebesar 7,14 persen sedikit melambat dibanding tahun 2016 sebesar 9,98 persen. Dari sisi produksi pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 15,18 persen sementara dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen impor sebesar 88,09 persen.

 “Memang jika melihat secara c-to-c nya,  pertumbuhan ekonomi Sulteng pada 2017 sedikit melambat dibanding pertumbuhan pada 2016. Tapi hal itu masih lebih baik,” jelas Faizal Anwar seraya mengatakan bahwa untuk lebih rinci mengenai pertumbuhan ekonomi Sulteng yang terjadi di 2017  dijelaskan oleh Sukadana Sufii,  Kepala Bidang Neraca wilayah dan statistik BPS Sulteng.

Secara rinci,  secara press release BBPS Senin (5/2/2018), Sukadana mepaparkan terkait pertumbuhan ekonomi Sulteng yang tumbuh melebar pada 2017 dengan pertumbuhan yang masih saja didongkrak oleh sektor pertambangan. Pada triwulan IV 2017 bila dibandingkan triwulan IV 2016 secara (y-on-y), ekonomi Sulteng tumbuh sebesar 9,15 persen lebih cepat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,75 persen.

Dari sisi produksi terlihat,  pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 21,78 persen sedangkan disisi pengeluaran,  pertumbuhan tertinggi pada  komponen impor barang dan jasa sebesar 178,04 persen.

Ekonomi Sulteng pada triwulan IV tahun 2017 dibandingkan triwulan sebelumnya secara (q-to-q)  mengalami pertumbuhan sebesar 2,15 persen. Dari sisi produksi pertumbuhan tertinggi terlihat dilapangan usaha jasa keuangan sebesar 5,28 persen.  Dari sisi pengeluaran,  pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa sebesar 94,11 persen.  Secara spacial, pertumbuhan ekonomi wilayah Sulawesi tahun 2017 tumbuh sebesar 7,01 persen dengan pertumbuhan tertinggi di Sulsel sebesar 7,23 persen.

Lebih jelasnya, kata Sukadana, bahwa dalam tiga tahun terakhir ini,  dilihat dari c-to-c,  pertumbuhan ekonomi di 2015 jauh lebih tinggi dengan pertumbuhan mencapai 15,50 persen. Dan pertumbuhan yang tinggi ini karena adanya produksi nikel dan LNG.  Sementara di 2016 c-to-c nya,  terjadi perlambatan hingga komulatif. Namun seiring dengan perkembangannya,  pertumbuhan tersebut masih saja didominasi oleh dua komoditas utama yaitu nikel dan LNG hingga mencapai angka pertumbuhan 7,14 persen.

 “Jika dibanding pertumbuhan pada 2015 dan 2016, pertumbuhan di 2017 ini relatif rendah, “ jelas Sukadana.

 Sehingga secara  y-on-y, pertumbuhan ekonomi Sulteng tidak berfluktuatif.  Dan itu terlihat pada c-to-c nya,  pada dua tahun terakhir di 2016 dan 2017, pertumbuhannya relatif sama,  terjadi perlambatan.  Namun diharapkan pada 2018 ini,  pertumbuhan ekonomi Sulteng bisa lebih baik apalagi dengan mulai berproduksinya pertambangan amoniak di Banggai tentunya akan turut mendukung terjadinya peningkatan pertumbuhan ekonomi Sulteng. ***

REDAKTUR : NILAWATI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *